Jakarta (02/04) — Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di Komisi XIII DPR RI, Meity Rahmatia, mengecam pasukan pendudukan Israel atas kematian 3 prajurit TNI yang meninggal dalam tugas di Lebanon pada beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kematian tiga putra terbaik bangsa tersebut tidak lepas dari aktivitas ekspansionis dan serangan Israel yang masif dalam beberapa bulan ini untuk menduduki wilayah Lebanon Selatan.
“Saya pribadi mengecam tindakan terkutuk dari pasukan pendudukan Israel. Negara zionis itu seperti tak cukup menghancurkan dan membunuh penduduk Gaza, Palestina, tapi juga mulai melakukan ekspansi ke negara tetangganya, Lebanon. Tindakan kekerasan ini tak bisa dibenarkan,” ungkapnya.
Tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB di Lebanon gugur dalam dua insiden terpisah yang terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Peristiwa tragis ini terjadi di tengah eskalasi konflik bersenjata yang terus meningkat di wilayah Lebanon selatan, tepatnya antara Jumat (27/3) hingga Senin (30/3) waktu setempat. Ketiga pahlawan bangsa tersebut dipastikan tewas akibat serangan yang menimpa posisi dan konvoi pasukan penjaga perdamaian yang berada di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Insiden pertama terjadi pada Minggu (29/3/2026) malam waktu Lebanon, di dekat posisi Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berada di Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan. Sebuah proyektil artileri diduga meledak di dekat markas Pasukan Interim PBB di Lebanon (UNIFIL) tersebut.
Korban jiwa dalam insiden pertama ini adalah Praka Farizal Rhomadhon. Sementara itu, tiga rekannya yang mengalami luka adalah Praka Rico Pramudia yang menderita luka berat, serta Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan yang mengalami luka ringan. Ketiga prajurit yang terluka segera mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan UNIFIL sebelum kemudian dievakuasi untuk perawatan lebih lanjut guna memastikan keselamatan jiwa mereka.
Belum genap 24 jam setelah insiden pertama, tragedi kedua kembali menimpa personel TNI pada Senin (30/3/2026) siang. Konvoi logistik UNIFIL yang dikawal oleh personel TNI menjadi sasaran ledakan di pinggir jalan (roadside explosion) di dekat wilayah Bani Hayyan. Ledakan keras tersebut menghantam kendaraan konvoi, menyebabkan kerusakan parah dan jatuhnya korban jiwa.
Insiden kedua ini mengakibatkan dua prajurit TNI lainnya gugur. Mereka adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Selain itu, dua prajurit lainnya, Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Kedua korban luka segera dilarikan ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan perawatan intensif pasca insiden yang terjadi di wilayah konflik aktif tersebut.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi persnya mengonfirmasi bahwa temuan awal untuk insiden kedua menunjukkan kuat dugaan bahwa ledakan di pinggir jalan menjadi penyebab hancurnya kendaraan konvoi UNIFIL. Pihaknya menyatakan bahwa investigasi menyeluruh tengah dilakukan untuk menentukan secara pasti jenis proyektil dan pihak yang bertanggung jawab atas kedua serangan yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian.
Pimpinan PBB dan UNIFIL memberikan respons keras atas peristiwa ini. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres secara tegas menyatakan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri langsung merespons dengan mengeluarkan pernyataan duka cita yang mendalam. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Wakil Tetap RI, Umar Hadi, melontarkan kecaman keras terhadap Israel dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB yang digelar di New York, Selasa (31/3/2026). Sidang darurat tersebut digelar atas permintaan Indonesia dan Prancis.
Dalam pidatonya yang berapi-api, Umar Hadi secara eksplisit menyebut Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan yang merenggut nyawa pasukan penjaga perdamaian. “Eskalasi saat ini tidak muncul dalam ruang hampa. Ini berasal dari serangan berulang oleh militer Israel ke wilayah Lebanon,” ujar Umar Hadi dalam sidang yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube PBB tersebut.
Saat ini, fokus utama pemerintah Indonesia adalah pada penanganan korban luka serta proses pemulangan jenazah ketiga prajurit yang gugur. Rencananya, jenazah akan diterbangkan ke tanah air dalam waktu dekat untuk dimakamkan secara militer sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara atas jasa dan pengabdian mereka yang telah gugur dalam misi perdamaian dunia di bawah naungan PBB.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan kepada wartawan di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4/2026), pemulangan para prajurit tersebut sedang dalam proses. Pemerintah, katanya, memastikan akan memberikan santunan finansial sebesar 1,8 miliar dan kenaikan pangkat.
Berkaitan dengan upaya pemerintah tersebut, Meity memberikan dukungan dan apresiasinya. Menurutnya, sudah seharusnya para korban dalam peristiwa ini mendapat perhatian khusus karena mereka telah berkontribusi besar mewakili Indonesia dalam misi perdamaian dunia.
“Mereka mewakili bangsa ini di dunia internasional, berpartisipasi secara aktif dalam menjalankan misi perdamaian di bawah bendera PBB. Insya Allah, mereka gugur sebagai syuhada. Semoga ke depan, PBB bisa memberikan perlindungan lebih serius dan bisa menyeret pelaku ke pengadilan internasional sebagai penjahat perang,” pungkasnya.