Jakarta (29/01) — Anggota DPR RI Fraksi PKS Daerah Pemilihan Jawa Barat VIII, Netty Prasetiyani, menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai penjaga demokrasi dan calon pemimpin bangsa di masa depan. Hal tersebut disampaikannya saat menerima kunjungan edukasi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wiralodra, Indramayu, pada Rabu (28/01), di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Rombongan mahasiswa dipimpin oleh Dekan FISIP Universitas Wiralodra, Dr. Ismanudin, M.Si., yang menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman langsung kepada mahasiswa mengenai proses politik, pengambilan keputusan, serta tugas dan fungsi anggota DPR RI sebagai legislator.
Dalam sambutannya, Netty menyambut para mahasiswa sebagai generasi penerus kepemimpinan nasional dan menekankan bahwa parlemen merupakan ruang strategis dalam menentukan arah kebijakan negara.
“Selamat datang para calon pemimpin di masa yang akan datang di gedung parlemen, tempat para wakil rakyat merumuskan kebijakan perundang-undangan yang menentukan masa depan bangsa,” ujar Netty.
Netty menjelaskan bahwa sistem politik Indonesia menganut demokrasi perwakilan, di mana rakyat memberikan mandat kepada wakilnya melalui pemilihan umum untuk memperjuangkan kepentingan publik.
“Melalui pemilu, masyarakat memilih wakilnya di DPR. Saat ini ada 580 anggota DPR RI dari berbagai daerah dan partai politik, yang semuanya memiliki tanggung jawab memperjuangkan aspirasi rakyat,” jelasnya.
Ia juga menguraikan mekanisme pengambilan keputusan di DPR RI yang mengedepankan musyawarah dan mufakat, namun tetap membuka ruang voting sebagai jalan konstitusional apabila mufakat tidak tercapai.
“Setiap keputusan di DPR diupayakan melalui musyawarah mufakat. Namun jika tidak tercapai, maka dilakukan voting dengan suara terbanyak sebagai penentu,” tambah Netty.
Lebih lanjut, Netty memaparkan fungsi utama DPR RI, yakni fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan, serta pembagian tugas anggota DPR dalam berbagai komisi dan alat kelengkapan dewan (AKD).
Dalam sesi dialog, Netty menanggapi berbagai isu strategis yang diajukan mahasiswa, termasuk fenomena fatherless, partisipasi politik generasi Z, kritik digital, hingga dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Terkait fenomena fatherless, Netty menilai hal tersebut sebagai persoalan serius yang memerlukan kesadaran kolektif.
“Fenomena fatherless menjadi keprihatinan kita bersama. Banyak anak kehilangan peran ayah secara emosional meskipun ayah hadir secara fisik. Karena itu pemerintah mengkampanyekan gerakan ayah mengambil rapor sebagai upaya membangun kembali kedekatan ayah dan anak,” tegasnya.
Sementara itu, mengenai partisipasi politik generasi Z, Netty menilai pemilih pemula sebagai potensi besar demokrasi Indonesia.
“Generasi usia 17 hingga 25 tahun adalah potensi luar biasa. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan literasi dan pendidikan politik melalui berbagai program dan kampanye yang relevan dengan anak muda,” katanya.
Menanggapi kritik digital dari generasi Z, Netty menyampaikan apresiasinya terhadap keterbukaan dan kepedulian anak muda terhadap kinerja wakil rakyat.
“Kami di DPR justru mengapresiasi kritik digital dari generasi Z. Itu menandakan kepedulian dan pengawasan publik terhadap kerja kami di Senayan,” ujarnya.
Terkait pembangunan IKN, Netty menjelaskan bahwa proyek tersebut merupakan keputusan politik pemerintahan sebelumnya dan saat ini berada pada tahap penyesuaian kebijakan.
Menutup pertemuan, Netty berharap kunjungan edukasi ini dapat memperkuat semangat belajar dan idealisme mahasiswa dalam membangun politik yang berintegritas dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.
“Semoga kunjungan ini memberi kesan, inspirasi, dan semangat bagi mahasiswa untuk menatap masa depan politik bangsa demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” pungkasnya.