Jakarta (27/01) — Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Mohd. Iqbal Romzi, menegaskan pentingnya penguatan perlindungan sekaligus pemberdayaan perempuan dan anak di tengah masih tingginya angka kekerasan yang terjadi. Hal tersebut disampaikannya dalam sesi PKS Legislative Report menjelang Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (27/1), di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Iqbal menjelaskan bahwa Komisi VIII DPR RI baru saja menggelar rapat kerja dengan mitra terkait, yaitu Kementerian PPPA dan KPAI membahas isu perlindungan perempuan dan anak yang dinilai masih memerlukan perhatian serius dari negara.
“Kemarin kita melakukan rapat kerja terkait dengan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan juga anak yang tentu harus mendapatkan perlindungan,” ujar Iqbal.
Menurutnya, negara harus hadir secara nyata dalam memberikan perlindungan personal bagi korban, termasuk melalui penguatan peran kementerian dan lembaga terkait. Namun demikian, Iqbal menyoroti masih terbatasnya dukungan anggaran yang berdampak pada optimalisasi kinerja perlindungan perempuan dan anak.
“Kehadiran negara memang harus muncul ke permukaan untuk memberikan perlindungan personal kepada mereka. Akan tetapi, kita juga melihat kemampuan kementerian ini masih terbatas karena anggarannya memang belum memadai,” tegasnya.
Iqbal juga menekankan pentingnya keseimbangan antara perlindungan dan pemberdayaan perempuan, terutama dari sisi ekonomi. Ia menilai, selama ini fokus perlindungan belum sepenuhnya diiringi dengan penguatan kemandirian perempuan.
“Kita melihat ada ketidakseimbangan. Perlindungan memang ditekankan, tetapi pemberdayaan perempuan itu sendiri menurut kami perlu dimaksimalkan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Iqbal mendorong agar deputi yang menangani kesetaraan dan kesejahteraan gender dapat merumuskan program yang benar-benar berdampak dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Harus betul-betul dirumuskan sebuah program yang berdampak, bukan sekadar terlaksana secara output, tetapi outcome-nya dirasakan betul oleh masyarakat,” kata Iqbal.
Ia menegaskan bahwa penguatan pemberdayaan ekonomi perempuan menjadi kunci penting dalam mengurangi kerentanan, mengingat banyak perempuan berada pada posisi ekonomi yang lemah.
“Keberpihakan kepada perempuan, meningkatkan taraf hidup mereka, dan memberikan peluang-peluang ekonomi adalah sebuah keharusan jika kita ingin membangun bangsa yang bertumpu pada kekuatan perempuan,” lanjutnya.
Menutup pernyataannya, Iqbal menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis sebagai soko guru keluarga dalam membimbing, mengasuh, dan mendidik generasi masa depan, sehingga upaya pemberdayaan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh mereka.
“Pemberdayaan itu harus betul-betul dirasakan oleh para perempuan yang menjadi soko guru dalam membimbing dan mendidik anak-anak mereka,” pungkasnya.