Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Fikri Faqih: Atlet Disabilitas dan Youth Mainstreaming Perlu Perhatian Serius Negara

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (27/01) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Abdul Fikri Faqih, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pembinaan atlet nasional, perhatian yang lebih serius terhadap atlet disabilitas, serta pengarusutamaan pemuda (youth mainstreaming) dalam kebijakan dan penganggaran negara.

Hal tersebut disampaikan Fikri dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang dilaksanakan pada Selasa (27/1) di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Fikri mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki atlet dengan kemampuan teknis yang diakui dunia, namun masih memiliki kelemahan pada aspek kebugaran fisik.

“Saya pernah mendapat masukan dari beberapa negara, termasuk Filipina, bahwa skill atlet kita itu di atas rata-rata. Tapi sering kali baru separuh pertandingan atau satu babak sudah kelihatan loyoh. Artinya, fitness kita masih kurang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti prestasi membanggakan atlet disabilitas Indonesia yang konsisten mengharumkan nama bangsa di ajang internasional, khususnya pada ajang Asian Para Games.

“Beberapa Asian Games yang dibarengi Asian Para Games, justru kita juara umum di Para Games. Tahun 2022 yang dipindah ke Indonesia kita juara umum, 2023 juga juara, dan sekarang peringkat dua tapi perolehan medali emasnya naik. Ini menunjukkan atlet disabilitas sangat banyak mengangkat nama Indonesia,” tegas Fikri.

Menurutnya, capaian tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah untuk memberikan perhatian, dukungan, dan pembinaan yang lebih serius dan berkelanjutan kepada atlet disabilitas.

Selain olahraga, Fikri juga mengkritisi belum optimalnya pengarusutamaan pemuda dalam kebijakan nasional. Ia menekankan bahwa nomenklatur Kementerian Pemuda dan Olahraga seharusnya mencerminkan keseriusan negara dalam membangun pemuda secara sistemik.

“Nama kementeriannya Pemuda dan Olahraga, bukan Olahraga dan Pemuda. Artinya pemuda itu harus betul-betul dipikirkan. Tapi sampai sekarang, youth mainstreaming belum jelas skemanya seperti gender mainstreaming yang sudah punya perencanaan dan penganggaran responsif,” jelasnya.

Fikri menilai banyak pemuda Indonesia berprestasi di tingkat dunia, khususnya di bidang riset dan inovasi, namun kurang mendapatkan eksposur dan dukungan negara karena tidak bersifat viral.

“Ada banyak anak muda hebat, peneliti kelas dunia, bahkan mengalahkan insinyur dan doktor dari MIT dan Oxford. Tapi mereka tidak dikenal karena tidak viral. Ini menunjukkan mainstreaming pemuda kita masih lemah,” ungkapnya.

Ia menegaskan perlunya kebijakan yang lebih terstruktur agar potensi pemuda Indonesia dapat berkembang optimal dan tidak hanya bergantung pada popularitas sesaat.

“Youth mainstreaming itu harus jelas: seperti apa perencanaannya, bagaimana penganggarannya, dan bagaimana keberpihakan negara kepada pemuda secara menyeluruh,” pungkas Fikri.