Jakarta (26/01) — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan dalam merespons bencana di wilayah Sumatera, khususnya melalui program pemulihan dan perlindungan cagar budaya yang terdampak.
Menurut Kurniasih, perhatian terhadap aspek fisik cagar budaya merupakan langkah penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. Namun, ia berharap upaya tersebut dapat terus dilengkapi dengan perhatian yang seimbang terhadap pelaku budaya, khususnya para seniman dan juru pelihara yang juga terdampak langsung oleh bencana.
“Cagar budaya tidak bisa dipisahkan dari para pelaku budayanya. Seniman dan juru pelihara adalah bagian penting dalam menjaga kehidupan kebudayaan itu sendiri,” ujar Kurniasih di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Kurniasih menambahkan, wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, selama ini dikenal sebagai daerah dengan kekayaan seni dan budaya yang kuat serta terjaga lintas generasi. Dari daerah-daerah inilah lahir banyak seniman dan pelaku budaya yang tidak hanya aktif di tingkat nasional, tetapi juga kerap mewakili Indonesia di berbagai forum dan panggung internasional.
“Ekosistem seni dan budaya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tumbuh dengan baik karena adanya kesinambungan peran para seniman dan pelaku budaya. Ketika bencana terjadi, yang terdampak bukan hanya ruang fisik, tetapi juga keberlangsungan ekosistem budaya itu sendiri,” jelasnya.
Kurniasih mencermati bahwa alokasi bantuan untuk pemulihan sumber daya manusia (SDM) seniman masih relatif terbatas, yakni sekitar Rp113 juta. Ia menilai ke depan porsi ini masih dapat ditingkatkan agar manfaat program tanggap bencana lebih dirasakan secara menyeluruh.
“Bencana berdampak tidak hanya pada bangunan dan situs budaya, tetapi juga pada kehidupan dan penghidupan para seniman. Dukungan yang lebih luas akan membantu mereka bangkit, baik secara ekonomi maupun psikososial,” tambahnya.
Kurniasih berharap Kementerian Kebudayaan dapat terus menyempurnakan skema bantuan tanggap bencana dengan memperkuat dukungan kemanusiaan bagi pelaku budaya, sehingga proses pemulihan kebudayaan berjalan lebih utuh dan berkelanjutan.
“Dengan perhatian yang seimbang antara cagar budaya dan para pelaku budayanya, kita optimistis pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih kuat dan berdampak jangka panjang,” pungkasnya.