Surabaya (25/01) — Dalam rangka persiapan menghadapi pelaksanaan utama Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dapil Jawa Timur I (Surabaya–Sidoarjo), Reni Astuti, melakukan kunjungan ke SMP Negeri 9 Surabaya dan SDIT Al Uswah Surabaya pada Jumat (23/01/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan sekolah serta peserta didik menjelang pelaksanaan TKA.
Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 dijadwalkan akan dilaksanakan secara nasional dan serentak pada April 2026, dengan sasaran peserta didik jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). TKA dirancang sebagai salah satu instrumen pemetaan kompetensi akademik siswa.
Dalam kunjungannya, Reni Astuti menegaskan bahwa pelaksanaan TKA tidak boleh menjadi beban tambahan bagi sekolah, guru, orang tua, maupun peserta didik. Ia menyampaikan harapan agar kebijakan tersebut dijalankan secara proporsional dan edukatif.
“Saya berharap Tes Kemampuan Akademik ini tidak menambah beban baru, baik bagi guru, orang tua, maupun murid. Hal ini juga sudah saya sampaikan kepada Menteri dalam berbagai pertemuan di Komisi X DPR RI,” ujar Reni.
Lebih lanjut, Reni menekankan pentingnya penguatan tujuan utama TKA oleh Kementerian Pendidikan, serta perlunya sosialisasi yang masif kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Menurutnya, pemahaman yang utuh terhadap tujuan TKA menjadi kunci agar kebijakan ini benar-benar berdampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan.
Dari hasil kunjungan tersebut, Reni menerima laporan bahwa pihak sekolah dan siswa telah melakukan persiapan secara optimal. Ia berharap kesiapan tersebut dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kompetensi dan kepercayaan diri peserta didik.
Selain itu, Reni juga menyerap aspirasi terkait penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ia menyoroti adanya keterbatasan penggunaan BOS untuk belanja modal sarana dan prasarana akibat pembatasan alokasi yang dinilai terlalu minim.
Reni mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk meninjau ulang regulasi tersebut agar sekolah lebih leluasa dalam menjaga mutu dan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
“Perlu rasanya kita kaji ulang terkait aturan BOS ini, supaya sekolah dapat lebih optimal dalam penggunaannya, namun tetap bertanggung jawab dan sesuai aturan,” ujar Reni.
Reni juga turut menyoroti persoalan Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang pada tahun 2026 direncanakan akan diberikan setiap bulan. Ia meminta pemerintah berkomitmen penuh terhadap kebijakan tersebut, mengingat pada tahun 2025 masih terdapat laporan TPG triwulan IV yang belum sepenuhnya cair.
Dalam kesempatan yang sama, Reni Astuti juga menyalurkan bantuan sarana olahraga berupa bola sepak, bola basket, bola voli, raket, kok, serta perlengkapan olahraga lainnya untuk mendukung aktivitas siswa.
Sebagai penutup, Reni berharap tahun 2026 menjadi momentum peningkatan kualitas pendidikan nasional.
“Saya berharap pendidikan di Indonesia ke depan semakin baik, semakin adil, dan benar-benar berpihak pada tumbuh kembang serta masa depan anak-anak bangsa,” pungkasnya.