Jakarta (08/01) — Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyambut baik komunitas Majelis Taklim yang terus mengonsolidasikan kegiatan dan potensinya, seperti yang dilakukan oleh Forum Silaturahmi Majelis Taklim se-Jakarta dan sekitarnya yang telah menghimpun lebih dari 380 Majelis Taklim.
Hal tersebut disampaikan HNW saat menerima kunjungan Forum SilaturahmiMajelis Taklim (FSMT) yang dipimpin Reza Zulkifli, di ruang kerja Wakil Ketua MPR RI, Gedung Nusantara III Lantai 9, Jakarta, pada Rabu, 7 Januari 2026.
HNW menegaskan pentingnya peran Majelis Taklim yang terus berkembang dan semakin diterima oleh masyarakat luas. Di sisi lain, keberadaannya juga sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang tengah menghadapi berbagai keresahan sosial, seperti maraknya judi online, narkoba, tawuran, kejahatan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, meningkatnya angka perceraian, serta penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang dapat memecah belah dan menimbulkan disharmoni sosial.
Menurutnya, pemerintah saat ini mengajak masyarakat menyongsong Indonesia Emas 2045 dengan memaksimalkan bonus demografi positif. Namun, hal tersebut akan sulit terwujud apabila berbagai penyakit sosial tersebut tidak segera dikoreksi dan diperbaiki secara bersama-sama, termasuk melalui peran Majelis Taklim yang telah terhimpun dan terkonsolidasi dengan baik, sebagaimana dicontohkan oleh Forum Silaturahmi Majelis Taklim. Oleh karena itu, HNW menyambut baik undangan FSMT untuk menghadiri agenda nasional mereka.
HNW juga mengingatkan pentingnya Majelis Taklim untuk meningkatkan konsolidasi internal sekaligus konsolidasi eksternal antarlembaga dan komunitas. Hal ini diperlukan agar potensi jaringan Majelis Taklim yang berada dalam berbagai wadah dapat saling mengisi dan saling menguatkan, termasuk dengan saling belajar dari keunggulan masing-masing komunitas, baik dalam kurikulum pengajian maupun kegiatan sosial. Ia mencontohkan praktik baik yang dilakukan Majelis Taklim yang mengelola Masjid Jogokariyan di Yogyakarta.
“Majelis Taklim hampir pasti identik dengan masjid atau jemaah masjid. Itu artinya Majelis Taklim memiliki posisi sentral di tengah umat yang sangat memerlukan pendampingan, bimbingan, bahkan solusi atas berbagai persoalan, serta upaya memaksimalkan potensi agar jangkauan iman dan penerjemahannya dalam amal saleh semakin luas,” ujar HNW.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran tokoh publik dan pimpinan Majelis Taklim di tengah masyarakat secara alami, berkelanjutan, dan tidak bersifat musiman.
HNW mengungkapkan bahwa Majelis Taklim perlu terus menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Sumatera, khususnya Aceh, terlebih saat daerah tersebut tengah dilanda musibah. Menurutnya, kepedulian Majelis Taklim tidak hanya sebagai pengamalan materi pengajian, tetapi juga sebagai penguatan ukhuwah Islamiyah serta ukhuwah insaniyah dan basyariyah.
“Memang tidak mungkin kita sendiri menyelesaikan semua masalah. Tetapi jika kita berkomitmen membantu sejauh yang bisa kita lakukan, itu akan memberikan dampak positif bagi kita dan mereka. Hal-hal yang belum bisa kita tangani dapat dikomunikasikan ke jejaring atau para mitra. Proposal terkait pesantren, masjid, dan madrasah dapat disampaikan oleh Majelis Taklim ke Kementerian Agama atau Kementerian Sosial,” jelasnya.
Lebih lanjut, HNW menekankan pentingnya Majelis Taklim memaksimalkan landasan konstitusional terkait peningkatan nilai iman, takwa, dan akhlak mulia yang secara eksplisit tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pascareformasi. Menurutnya, kecerdasan bangsa tidak boleh dilepaskan dari fondasi spiritual dan moral, yang sejalan dengan tujuan dan aktivitas Majelis Taklim.
“Konstitusi kita menegaskan pentingnya iman, takwa, dan akhlak mulia. Hal ini harus terus dijaga agar kemajuan tidak menafikan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak menjaga persatuan umat, termasuk dalam perbedaan praktik ibadah. Menurutnya, substansi ketakwaan jauh lebih penting daripada perdebatan teknis yang tidak esensial.
“Yang perlu dipermasalahkan bukan Jumat dengan satu atau dua azan, tetapi justru mereka yang tidak mau datang ke masjid, bahkan hanya untuk salat Jumat sekalipun,” tegasnya.
HNW berpesan agar Majelis Taklim menjadi ruang edukasi dan pemersatu umat, bukan arena polemik yang membingungkan masyarakat awam.
“Majelis Taklim itu untuk membuat umat semakin cinta masjid, cinta pengajian, dan cinta silaturahim. Jangan dikotori dengan polemik yang menimbulkan perpecahan, permusuhan, atau antipati terhadap kegiatan kemasjidan dan keislaman secara umum,” pungkasnya.
Pimpinan FSMT menyambut baik seluruh masukan HNW, terlebih ketika HNW mengabulkan permintaan mereka untuk berkenan menjadi Dewan Penasihat Forum Silaturahmi Majelis Taklim.