Jakarta (20/11) — Menyusul peristiwa peledakan di Sekolah Menengah Atas Negeri 72, Jakarta Utara, Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr Hj Meity Rahmatia mendukung upaya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme meningkatkan inovasi program pencegahan terorisme melalui platform digital.
“Saya mendukung BNPT meningkatkan peran dan kehadirannya dalam mencegah pengaruh kekerasan dan terorisme di platform Media digital,” ungkapnya.
Politisi perempuan dari Sulsel itu berpandangan, media digital seperti pisau bermata dua. Memiliki dampak kebaikan dan positif bila berada di tangan orang baik. Namun bisa pula negatif bila dikelola oleh orang yang tidak baik, atau individu yang belum memiliki literasi digital.
“Karena itu kita harus bijak menggunakannya,”imbuhnya.
“Persoalannya, anak-anak sekarang nyaris tidak ada batasan dalam mengakses konten di platform. Termasuk yang mengandung kekerasan. Kasus SMAN 72 adalah contoh nyata.”
“Belakangan juga kemudian terbongkar bahwa ada upaya mempengaruhi anak-anak menjadi bagian dari terorisme melalui media digital,” tambahnya.
Hal ini diutarakan oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut menyusul temuan penyidikan kepolisian yang akhirnya mengungkap, pelaku peledakan yang tak lain adalah siswa SMAN 72 sendiri, sedikitnya terpengaruh oleh konten kekerasan di platform media digital.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI mengatakan bahwa pelaku ledakan diketahui kerap mengakses grup true crime community (komunitas kejahatan nyata).
Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono menerangkan, dari sisi psikologis, perbuatan pelaku yang meledakkan sekolahnya itu merupakan mimetic radicalization atau mimetic violence, yaitu meniru modus kejahatan yang pernah terjadi sebelumnya.
Namun, adanya tekanan psikologis yang dialami pelaku seperti perundungan oleh rekannya di sekolah juga dinilai sebagai salah satu pemicu yang mendorong pelaku nekat berbuat kekerasan.
Peristiwa ledakan sekolah yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara itu terjadi pada Jumat (7/11/2025,) sekira pukul 12.15 WIB.
Menurut keterangan saksi, ledakan terjadi saat siswa dan guru sedang Shalat Jumat di masjid di sekolah tersebut. Letusan pertama pertama terdengar ketika khotbah sedang berlangsung, disusul ledakan kedua yang diduga berasal dari arah berbeda.
Ledakan itu menyebabkan para korban mengalami beragam cedera, termasuk luka bakar dan luka akibat serpihan, sekaligus menyulut kepanikan dari warga sekolah dan masyarakat sekitar.
Selain mendukung BNPT, Meity juga kembali mengajak masyarakat agar meningkatkan peran keluarga dalam literasi penggunaan platform media digital.
“Peran keluarga kembali kita kuatkan. Dari orang tua di rumah atau keluarga, kemudian ke lingkungan terdekat dan institusi sekolah yang melibatkan pelajar,”pungkasnya.