Jakarta (07/11) — Anak kecil berusia satu tahun itu sudah menjadi yatim sejak dalam kandungan. Ayahnya, yang berpamitan bekerja di kapal ikan asal Cina, akhirnya pulang hanya tinggal nama. Bahkan, keluarga istri dan orang tuanya tidak melihat jasad maupun pemakamannya, karena ketika ditemukan oleh nelayan lokal, tubuhnya sudah tidak utuh—kepalanya hilang.
“Kematian ABK asal Batang yang terjun dan melompat dari kapal ikan Cina terjadi karena ia sudah tidak kuat menahan perlakuan tidak manusiawi dari mandor kapal. Mereka dipaksa makan sisa makanan ABK asing, minum air bekas AC, dan bekerja melebihi jam kerja normal,” papar Susi dari Destructive Fishing Watch (DFW), lembaga swadaya masyarakat yang fokus membela hak-hak ABK asing. Dalam kasus ini, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) bertindak sebagai kuasa hukum korban.
Anggota Fraksi PKS DPR RI, Riyono, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima aduan dari DFW dan SBMI sejak awal tahun 2025. Kasus illegal fishing kapal Runzeng 03 memang telah inkrah dan kapalnya disita oleh negara. Namun, kasus yang menimpa para ABK masih belum tuntas, bahkan korban belum mendapatkan hak-haknya sebagai pekerja. “Alih-alih keadilan, justru kematian yang mereka dapat,” ujarnya.
“PKS mendorong penyelesaian kasus ini melalui Komisi IV dan juga akan memperjuangkannya di Komisi III melalui Bang Nasir Jamil sebagai wakilnya. Pertemuan di ruang Bang Nasir Jamil dengan para korban dan kuasa hukum menjadi bukti keseriusan FPKS dalam membela hak-hak ABK,” tambah Riyono.
Pertemuan selama satu setengah jam antara Nasir Jamil dan Riyono bersama para kuasa hukum serta istri korban dalam kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berlangsung serius dan mendalam. Berbagai informasi dan kesaksian dari istri korban serta kuasa hukum menggambarkan kuatnya jaringan TPPO, mulai dari tingkat calo hingga bandar besar yang diduga menjadi beking dalam kasus ini.
“PKS akan berjuang semaksimal mungkin mengawal kasus ini. Memang tidak mudah, karena selama ini belum pernah ada kasus TPPO terhadap ABK yang diputus oleh pengadilan. Semoga para ABK dan keluarganya mendapatkan keadilan. Mohon doa dari masyarakat semua,” tutup Riyono.