Surabaya (13/10) — Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Reni Astuti, memberikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dukungan ini diwujudkan melalui kunjungan langsung ke salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Yakni, SPPG Nikmat Barokah yang berlokasi di Jalan Wisma Kedung Asem Indah Blok HH-10, Rungkut, Surabaya pada Senin (13/10).
Dalam kunjungannya, Reni menyebut program MBG memiliki tujuan yang mulia. Salah satunya ialah memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan kecukupan gizi yang baik.
“Secara substansi, program ini luar biasa. Selain memenuhi gizi anak, program MBG juga membuka lapangan pekerjaan, memutar produktivitas pangan di dalam negeri, dan akhirnya manfaat gizinya dirasakan langsung oleh anak-anak kita,” ujar Reni.
Kunjungan Reni ke SPPG Nikmat Barokah bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengikuti pemberitaan bahwa dapur yang diresmikan oleh Gubernur Jatim ini menjadi salah satu lokasi yang tidak mengalami masalah keracunan makanan, berbeda dengan beberapa kasus yang terjadi di tempat lain.
Bahkan setibanya di lokasi, Reni dibuat takjub dengan pengelolaan SPPG yang memproduksi hingga 3.960 paket makanan siap saji setiap harinya. Ia secara khusus menyoroti aspek kebersihan dan standar operasional yang diterapkan.
“Saya mengamati, mengolah makanan sebanyak ini setiap hari, tapi di lokasi sama sekali tidak tercium bau sampah. Tempatnya sangat bersih, SOP-nya jelas, dan pembagian ruangannya rinci,” puji Reni.
Anggota dewan dari Dapil Jatim I (Surabaya-Sidoarjo) ini juga menyoroti detail proses penyimpanan bahan baku.
“Bahan baku yang harus terjaga suhunya benar-benar diamankan di ruangan khusus dengan freezer yang memadai. Ompreng (wadah makan) dari tempat penyimpanan hingga pencucian juga sangat steril. Bahkan, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga tersedia,” paparnya.
Reni menyimpulkan bahwa alur kerja (ergonomi) SPPG Nikmat Barokah ini sudah sangat baik, mulai dari proses awal, pengolahan di dapur, penyajian, hingga pengiriman.
Di sisi lain, Reni melihat bahwa pengelolaan MBG yang bagus seperti di SPPG Nikmat Barokah ini tidak akan mengganggu proses pembelajaran. Justru sebaliknya, program ini dapat memberikan stimulus positif bagi siswa maupun guru.
“Kami di Komisi X DPR RI berharap dengan adanya program MBG, maka proses pembelajaran bisa berjalan semakin baik. Siswa tidak mudah sakit, tetap sehat, dan kebutuhan gizinya terpenuhi,” jelas Reni.
Menurutnya, siswa dengan gizi yang tercukupi akan menjadi lebih aktif dan fokus di kelas, yang pada akhirnya mempermudah tugas guru dalam mengajar.
“Adanya program MBG ini sangat strategis dan mendukung penuh proses pembelajaran di sekolah,” tegasnya.
Melihat kualitas pengelolaan yang baik ini, Reni optimis program MBG akan terlaksana sesuai dengan tujuannya.
Terkait adanya insiden keracunan di tempat lain, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang segera menutup SPPG bermasalah tersebut sebagai langkah yang tepat.
Ke depan, Reni menyarankan agar Badan Gizi Nasional (BGN) mencari SPPG yang dapat dijadikan model percontohan nasional.
“Saya kira, SPPG Nikmat Barokah ini bisa dijadikan model. Sehingga SPPG-SPPG yang akan didirikan di tempat lain punya rujukan nyata, tidak hanya sekadar teori SOP di atas kertas saja,” tegasnya.
Sementara itu, Yayuk Eko Agustin selaku owner SPPG Nikmat Barokah menjelaskan bahwa dapur gizi miliknya mendistribusikan sebanyak 3.960 paket makanan. Paket siap santap itu disalurkan ke 9 sekolah, baik SD dan SMP di wilayah terdekat.
Untuk mendukung operasional yang masif ini, Yayuk mempekerjakan 50 warga setempat yang memiliki keahlian. Mereka bekerja selama delapan jam tanpa shift di dapur yang memiliki luas 450 meter persegi itu.
“Kami sangat mengedepankan proses yang steril, higienis, fresh, dan tentunya memiliki kandungan gizi yang memadai. Kami mulai bekerja pukul 02.00 dini hari, dari mencuci ompreng hingga menyiapkan makanan. Kami ingin makanan tersaji dalam keadaan fresh,” jelas Yayuk.
Pengiriman makanan ke sekolah-sekolah terbagi menjadi dua sesi, yaitu pada pukul 09.00 dan 11.00. Hal ini memastikan makanan sampai tepat waktu dan dalam kondisi terbaik.
“Saya ini niatnya untuk ibadah. Jika niatnya itu ibadah, maka akan terasa enak, semua berjalan sesuai dengan rencana,” tuntas Yayuk.