Sumedang (11/10) — Dalam rangka kegiatan reses DPR RI, Anggota DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Barat IX (Sumedang, Majalengka, Subang), Ateng Sutisna, melaksanakan peletakan batu pertama Program Desa Peduli Mata Air di Desa Kadaka Jaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Senin (6/10).
Program ini menjadi bagian dari agenda reses yang bekerjasama dengan Kedeputian Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dan difokuskan pada isu perlindungan sumber mata air dan penguatan ketahanan air (water resilience) di daerah hulu. Melalui kegiatan Kemitraan dengan KLH tersebut, Ateng ingin memastikan bahwa aspirasi masyarakat dalam menjaga sumber daya air mendapat dukungan nyata dari kebijakan nasional maupun daerah.
Program Desa Peduli Mata Air di Kadaka Jaya mencakup tiga kegiatan utama, yakni pembangunan instalasi pemanenan air hujan, pembangunan sumur resapan air hujan (SRA) dan bangunan pelindung sumber mata air. Ketiga kegiatan ini difasilitasi oleh KLH/BPLH. Sedangkan kegiatan swadaya masyarakat untuk mendukung dan memperkuat kegiatan Utama tersebut diantaranya adalah rehabilitasi terhadap embung penampungan air dari mata air (kolam penampungan), rehabilitasi catchment area melalui perbanyakan penanaman tanaman bambu , serta pipanisasi ke titik turen agar air dari sumber dapat langsung dimanfaatkan warga. Embung ini nantinya berfungsi menampung air hujan, memperkuat resapan tanah, dan menjaga ketersediaan air bersih terutama di musim kemarau.
Dalam sambutannya, Ateng menegaskan bahwa konservasi air merupakan isu strategis bagi wilayah Sumedang yang memiliki banyak mata air alami namun kini terancam degradasi lingkungan.
“Kalau sumber air di hulu rusak, masyarakat di hilir akan kekeringan. Jadi menjaga mata air bukan hanya tanggung jawab satu desa, tapi tanggung jawab ekologis seluruh daerah,” ujar Ateng.
Sebagai Anggota Komisi XII DPR RI yang membidangi energi, lingkungan hidup, dan sumber daya alam, Ateng menekankan perlunya sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) agar program seperti ini memiliki dampak berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan embung dan pipanisasi harus disertai dengan rehabilitasi vegetasi serta edukasi lingkungan kepada warga.
“Penanaman dan pengkayaan tanaman bambu di area tangkapan air ini bukan seremonial. Akar bambu mampu menahan air di dalam tanah dan memperpanjang debit mata air di musim kering. Kalau hulu kuat, hilir akan selamat,” jelasnya.
Ateng juga menilai, kegiatan ini mencerminkan semangat kolaborasi antara wakil rakyat Kementerian/Lembaga dan masyarakat dalam membangun solusi berbasis ekologi yang langsung dirasakan manfaatnya.
“Air adalah sumber kehidupan, dan menjaga air berarti menjaga masa depan. Karena itu, saya berharap program seperti ini bisa terus diperluas ke kecamatan lain agar manfaatnya semakin besar bagi masyarakat Sumedang,” tegasnya.
Ia mengakhiri kegiatan dengan mengajak masyarakat untuk terus merawat area embung dan pohon bambu yang ditanam bersama.
“Kalau masyarakat ikut merasa memiliki, insya Allah program ini akan bertahan lama. Pembangunan lingkungan bukan proyek sesaat, tapi gerakan bersama yang harus dijaga,” pungkas Ateng.