Jakarta (07/10) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Ateng Sutisna menyoroti insiden ledakan kilang minyak di Dumai, Riau yang kembali menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan di Kilang Minyak. Menurutnya, peristiwa ini bukan pertama kali terjadi sehingga harus menjadi alarm serius bagi semua pihak.
“Ledakan di kilang minyak Dumai menambah daftar panjang insiden migas yang berulang. Pertanyaannya, sampai kapan masyarakat harus hidup dalam kecemasan? Ini harus menjadi perhatian tegas, bukan hanya sekadar laporan tahunan,” ujarnya.
Ia menegaskan, insiden berulang di sektor migas menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengawasan dan penerapan standar keselamatan kerja.
“Kalau hanya perbaikan teknis tanpa pembenahan menyeluruh, kejadian ini akan terus terulang. Saya minta investigasi yang terbuka, transparan, dan diikuti langkah korektif yang nyata,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa dampak ledakan kilang bukan sekadar kerugian material, tetapi juga mengancam rasa aman warga sekitar, menurunkan kualitas lingkungan, serta berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi daerah.
“Kilang minyak adalah objek vital strategis negara, tapi keselamatan rakyat harus ditempatkan di atas segalanya,” ujar Ateng.
Untuk itu, ia mendesak Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina agar segera melakukan audit menyeluruh, memperketat sistem pengawasan, serta menyusun protokol pencegahan yang lebih ketat.
“Investigasi harus menyeluruh, hasilnya disampaikan secara terbuka, dan harus ada sanksi tegas bila ditemukan kelalaian. Jangan sampai publik hanya mendapat janji tanpa perubahan,” tambahnya.
Ateng memperingatkan bahwa insiden Dumai harus dijadikan momentum pembenahan tata kelola migas nasional, sehingga kedepan insiden ini tidak kembali terulang.
“Kalau hal ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap industri migas akan makin terkikis. Keselamatan dan kepentingan rakyat tidak bisa ditawar,” pungkasnya.