Jakarta (09/07) — Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PKS dari Dapil Maluku Utara, Izzuddin Al-Qassam Kasuba, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meninggalnya turis asal Brasil, Juliana Marins, dalam insiden tragis saat pendakian Gunung Rinjani.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Al-Qassam Kasuba turut menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan menegaskan pentingnya respons cepat dan proporsional dari pemerintah terhadap peristiwa ini.
Menurut Al-Qassam, kejadian ini bukan hanya soal kecelakaan di destinasi wisata, tetapi merupakan ujian nyata bagi sistem keselamatan dan tanggung jawab negara dalam menjamin keamanan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Ia menilai bahwa sektor pariwisata, apalagi yang melibatkan wisata minat khusus seperti pendakian gunung, harus memiliki standar keselamatan yang ketat, terukur, dan sesuai praktik terbaik global.
“Indonesia adalah negara mega destinasi dunia, dan kita tidak boleh membiarkan tragedi seperti ini mencoreng citra pariwisata nasional. Pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pariwisata dan pemda terkait, harus bergerak cepat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap protokol keselamatan wisata alam dan petualangan,” ujar Al-Qassam.
Ia juga mendorong agar pemerintah membuka ruang dialog dengan komunitas pendaki, operator wisata, serta masyarakat lokal untuk menyusun prosedur tetap (SOP) yang adaptif dan responsif terhadap kondisi lapangan.
Teknologi pendukung seperti sistem pelacak pendaki, pos pengamanan aktif, serta pelatihan tanggap darurat bagi pemandu dan petugas wisata harus menjadi prioritas anggaran dan kebijakan.
“Tragedi ini menyadarkan kita bahwa promosi wisata harus sejalan dengan kesiapan infrastruktur keselamatan. Kita tidak bisa hanya menjual keindahan tanpa menjamin perlindungan bagi mereka yang datang,” tegasnya.
Sebagai legislator dari daerah kepulauan dengan banyak destinasi unggulan seperti Maluku Utara, Al-Qassam menekankan bahwa integrasi antara promosi, pelayanan, dan keselamatan wisata adalah kunci untuk membangun kepercayaan wisatawan internasional.
Ia juga meminta pemerintah untuk menjadikan kasus Rinjani sebagai momentum perbaikan nasional dalam manajemen risiko wisata berbasis alam.
“Sektor pariwisata sangat vital bagi perekonomian nasional dan daerah. Jangan biarkan satu tragedi menjadi gambaran umum tentang lemahnya keselamatan wisata di Indonesia. Tugas kita adalah memastikan tidak ada lagi nyawa yang melayang karena kelalaian sistem,” pungkasnya.