Oleh: Riyono
Anggota Komisi IV DPR RI – Ketua DPP PKS Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan
Hari Nelayan bukan hanya rutinitas tahunan, tapi hari penting dan keramat bagi nelayan yang menunggu kebijakan negara sampai kepada jaring ikan dan piring lauk pauk anak mereka di rumah. Ikan adalah emas bagi nelayan tiap hari, bekerja dari gelap malam sampai terbit matahari.
Hasilnya? Musim timur melimpah ruah dan musim barat paceklik ikan. Itulah siklus tahunan yang terus berulang sampai sekarang. Apakah nelayan sudah sejahtera? Kurun waktu 5 tahun ini bagaimana nasib nelayan? Akankah koperasi Nelayan merah putih mampu menjawab problem dasar nelayan saat ini?
Nelayan Kuat
Agak berat mengatakan nelayan sejahtera? Ayo kita lihat faktanya melalui angka Nilai Tukar Nelayan yang saat ini menjadi ukuran nasional. NTN menggambarkan rasio antara indeks harga yang diterima nelayan (dari hasil tangkapan) dengan indeks harga yang dibayar (untuk konsumsi dan produksi), yang menjadi indikator tingkat kesejahteraan.
Data 2020 (98,69) 2021 (104,69), 2022 (106,45) 2023 (105.40) 2024 (101,62) dan 2025 (103,86). Angka ini bukan hanya soal data dan tafsir dibaliknya, angka ini menunjukkan capaian dan keringat keras semua stakeholder yang diukur setiap bulan.
Angka ini kesejahteraan atau kemiskinan? Melihat angka di atas 100 artinya nelayan mengalami surplus, atau sederhananya nilai tangkap masih lebih banyak di banding modalnya. Memang kita gak bisa klaim sejahtera, tetapi bahwa nelayan kita kuat dan mampu bertahan dalam kondisi seperti sekarang adalah fakta.
Selama 5 tahun ini nelayan surplus, pas korona awal 2020 sempat turun, semua mengalami. Selama lebih dari 20 tahun berkecimpung dan membersamai nelayan saya paham betul, nelayan kecil mampu bertarung dengan segala kekurangan: modal, skil dan bahkan harga ikan yang sering tidak bersahabat. Tanpa nelayan tidak ada ikan sampai ke meja kita dengan kualitas nomer 1, yang ada ikan impor yang sudah mati 3 kali sampai ke piring makan kita.
Kuatnya nelayan bisa dimaknai, pertama mereka berhasil dan bangga menjadi nelayan sampai level anaknya mengeyam pendidikan tinggi dan lulus sebagai sarjana. Memang masih kecil, kisaran angka 1-2% dari kalangan keluarga nelayan yang sarjana. Artinya dari 3,2 juta nelayan hanya 64.000 sarjana. Rerata lulusan nelayan hampir 80% lulusan SD – SMP. Ini saya katakan nelayan sejahtera, alat ukur mudah dan langsung terlihat. Sarjana di rumah tangga nelayan barang langka, tapi trennya terus meningkat. Bukti bahwa nelayan semakin maju dalam berpikir dan ekonomi.
Kedua, nelayan kuat, mampu terus bertahan dalam ketidakpastian hasil tangkapan, harga ikan dan penguasaan teknologi. Berat tapi mereka berhasil, justru produktifitasnya terus bertambah. Hasil tangkapan ikan nelayan kecil periode 2025 diangkat 7,5 juta ton naik kisaran 14% dari 2024 yang kisaran 6 juta ton. Bahkan peredaan ikan global hampir 90% di hasilkan nelayan kecil.
Angka ini sekali lagi bukti bahwa nelayan bisa sejahtera. Ukuran indeks kesejahteraan nelayan sudah waktunya diubah, bukan hanya berpedoman kepada nilai tukar dengan dua komponen utama: hasil dan belanja. Harusnya faktor aset, skill, hasil tangkapan dan modal kerja, kondisi pasar juga menjadi alat ukur yang komprehensif untuk mengukur makna kesejahteraan. Indeks kesejahteraan bisa diukur dengan perubahan skor 1 – 10 untuk memudahkan dalam kategorisasinya.