Jakarta (09/04) — Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS, Netty Prasetiyani, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program Magang Nasional, namun mengingatkan pentingnya evaluasi yang lebih terukur agar program ini benar-benar berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Komisi IX DPR RI bersama Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (09/04).
Netty mengungkapkan bahwa Program Magang Nasional menjadi salah satu program yang banyak diperbincangkan masyarakat dan mendapatkan respons positif dari para peserta.
“Saya beberapa kali bertemu dengan peserta Magang Nasional yang menyampaikan apresiasinya. Karena mereka betul-betul mendapatkan manfaat, baik pengetahuan, keterampilan, bahkan pengalaman kerja yang setara dengan pegawai,” ujar Netty.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari tingginya jumlah peserta, tetapi harus dilihat dari outcome nyata, terutama tingkat penyerapan tenaga kerja.
“Bukan sekadar berapa banyak yang ikut, tapi juga berapa banyak yang kemudian terserap sebagai pekerja. Bahkan ada yang baru tiga bulan magang sudah langsung diterima kerja karena dinilai memenuhi spesifikasi,” tambahnya.
Menurut Netty, transparansi data terkait tingkat keberhasilan program, termasuk jumlah peserta yang direkrut menjadi pekerja tetap, menjadi penting untuk menunjukkan efektivitas penggunaan anggaran negara.
Baca Juga: Netty Prasetiyani Soroti Temuan BPOM soal Obat Herbal Berbahaya, Tekankan Pengawasan dan Edukasi
“Ini penting untuk dipublikasikan, sehingga masyarakat bisa melihat added value dari program magang nasional, apalagi anggarannya juga tidak kecil,” tegasnya.
Lebih lanjut, Netty juga menyoroti aspek penguatan soft skill dalam program tersebut. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Ketenagakerjaan yang telah memasukkan pembinaan karakter, namun menilai implementasinya perlu diperkuat.
“Soft skill ini menjawab kekhawatiran kita, bahwa generasi muda secara intelektual bagus, tapi dari sisi adab dan etika perlu diperkuat,” jelasnya.
Ia bahkan mendorong agar pembekalan soft skill tidak lagi bersifat opsional, melainkan menjadi bagian wajib dalam skema program.
“Kalau boleh, ini menjadi pembekalan awal yang wajib, sehingga perusahaan yakin peserta magang benar-benar siap dan layak diterima, bahkan bisa direkrut,” tegas Netty.
Netty menilai, dengan perbaikan pada aspek evaluasi, transparansi, serta penguatan karakter, Program Magang Nasional berpotensi menjadi instrumen strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berdaya saing dan berintegritas di dunia kerja.