Jakarta (06/04) — Saat ini pemerintah berencana menggarap potensi wisatawan Asia Tenggara (short haul) sebagai alternatif menurunnya kunjungan wisatawan dari Eropa dan AS (long haul).
Melihat kebijakan tersebut sangat positif, anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian Pariwisata tersebut. Saat dihubungi pada Senin (6/4/2026), ia menyebut langkah itu lebih realistis, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
“Potensi short haul seperti Asia Tenggara sangat realistis kita garap saat ini. Baik itu potensi wisatawan, pelaku industri, atau tujuan ekspor produk Indonesia. Apalagi dengan dinamika pasar global saat ini, jadi cerminan bagaimana dunia ini berkembang ke depannya,” kata Hendry Munief.
Dukungan itu juga disampaikan oleh Hendry Munief saat Rapat Kerja (Raker) antara Komisi VII DPR dengan Kementerian Pariwisata, Rabu (1/4/2026).
Saat itu, Hendry Munief juga mendorong agar pemerintah segera merealisasikan pengembangan Roll On Roll Off (Ro-Ro) Dumai–Melaka sebagai hub internasional Indonesia.
“Saat ini mengejar potensi wisatawan short haul, yaitu negara ASEAN sebagai wisatawan, sangat realistis. Apalagi wisatawan kita menurun hingga 1,64 juta akibat konflik dan perang,” terang Hendry Munief.
Untuk menggarap pasar wisatawan ASEAN, Hendry menyarankan kepada pemerintah, baik dari Kemenpar maupun kementerian terkait lainnya, agar memanfaatkan Riau sebagai hub internasional karena berdekatan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Hendry Munief menilai strategi mengejar pasar short haul tidak akan berhasil tanpa memaksimalkan potensi daerah terdekat dari negara yang dituju. Yang dapat dikejar bukan saja potensi wisatawan, tetapi juga sektor industri.
“Riau sangat layak sebagai hub internasional Indonesia. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia yang tidak stabil dan cenderung terus naik, maka salah satu alternatif adalah jalur laut. Maka kita usulkan agar rencana pembangunan Ro-Ro Dumai–Melaka segera diaktivasi,” tegas Hendry Munief.
Jalur laut, menurut Hendry Munief, lebih murah. Hal ini akan meningkatkan minat wisatawan. Selain itu, Ro-Ro ini tidak hanya mendukung pasar pariwisata, tetapi juga sektor lainnya, baik industri, investasi, dan lainnya.
“Mudahnya akses akan meningkatkan tingkat kunjungan dan investasi ke Indonesia. Apalagi pasar ASEAN yang dominan suku Melayu memiliki kedekatan secara budaya dengan daerah Sumatra berbasis Melayu,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa dengan adanya jalur Tol Trans Sumatera turut mendukung program ini. Dumai terhubung dengan seluruh provinsi di Pulau Sumatera.
Di tengah upaya penguatan program tersebut, sektor pariwisata global saat ini menghadapi dampak dari konflik di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 menyebabkan gangguan penerbangan dari enam hub utama penerbangan internasional, yaitu Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat, yang berkontribusi pada pembatalan sekitar 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, dan Medan.
Situasi ini diperkirakan menyebabkan potensi kehilangan sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara dengan potensi devisa yang tidak terealisasi mencapai sekitar Rp2,04 triliun.