Jakarta (19/03) — Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid kembali menyampaikan keprihatinan mendalam atas nasib Masjid Al-Aqsha, masjid yang disucikan dan kiblat pertama umat Islam.
“Penutupan berkepanjangan Masjid Al-Aqsha secara sepihak oleh Israel itu sangat melukai HAM umat Islam dan secara terbuka melanggar hukum internasional. Ini merupakan sejarah buruk, baru pertama kalinya dalam sejarah Masjid Al-Aqsha sepi. Setelah pada bulan Ramadan 1447 H umat Islam tidak diperbolehkan memakmurkan Masjid Al-Aqsha dengan sholat di dalam masjid, seperti sholat tarawih, sholat Jumat, dan i’tikaf. Bahkan kini hingga bulan Ramadan berakhir, sebagaimana disampaikan oleh Asosiasi Ulama Palestina dalam platform X, tentara Zionis Israel terus menutup Masjid Al-Aqsha, sehingga sholat Idulfitri pun tidak bisa diselenggarakan di Masjid Al-Aqsha,” disampaikan HNW melalui rilis di akhir hari Ramadan, Kamis (19/03/2025).
Lebih lanjut, HNW, yang juga anggota DPR RI Komisi VIII dari dapil Jakarta II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri, mengingatkan:
“Ketika gema takbir memenuhi angkasa dunia, ketika umat Islam secara internasional bersukacita berbondong-bondong ke masjid atau lapangan untuk sholat Idulfitri, tetapi Masjid Al-Aqsha dan area sekitarnya yang setiap Idulfitri biasanya juga penuh dengan gemuruh takbir dari ratusan ribu jemaah, pada hari raya Idulfitri besok akan sepi. Tidak ada kemeriahan dan syiar sholat Idulfitri di sana. Itu semua karena Zionis Israel terus menutup Masjid Al-Aqsha dengan mengabaikan tuntutan dan penolakan keras dari masyarakat internasional, termasuk dari OKI, Liga Arab, Uni Afrika, Liga Muslim Dunia, Asosiasi Ulama Palestina, termasuk dari DMI (Dewan Masjid Indonesia). Bahkan delapan Menteri Luar Negeri dari negara-negara anggota OKI yang sekaligus juga anggota BOP (Board of Peace) juga sudah membuat pernyataan bersama menolak penutupan Masjid Al-Aqsha dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, HAM, dan berpotensi menghadirkan ketegangan serta menjauhkan dari perdamaian, namun juga diabaikan Israel. Dan alih-alih mendengarkan dan menghormati, pihak Zionis Israel malah secara sepihak memutuskan untuk terus menutup Masjid Al-Aqsha hingga sesudah Ramadan, sehingga tidak memungkinkan penyelenggaraan sholat Idulfitri di dalam Masjid Al-Aqsha. Bahkan ketika umat memenuhi seruan Syaikh Ikrimah Shobir untuk tetap berusaha sholat tarawih sekalipun hanya di sekitar kawasan luar Masjid Al-Aqsha, tentara Israel tetap mengusir dan tidak mengizinkan umat Islam sholat di sana.”
Maka menurut HNW, “Kekhawatiran banyak pihak bahwa Israel memanfaatkan gelar perang bersama AS menyerang Iran, yang menyita perhatian umat dan publik dunia, sebagai momentum untuk semakin memudahkan agendanya dalam penguasaan atas Masjid Al-Aqsha, baik secara pengelolaan dengan mengubah ketentuan hak pengelolaan di bawah lembaga wakaf di bawah otorita Yordania menjadi di bawah pengelolaan lembaga rabi Yahudi, untuk akhirnya nanti menguasai secara fisik dengan mendirikan Kuil atau Haikal Sulaiman di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha, semakin mendapatkan pembenarannya.”
Atas kekhawatiran itu dan sebagai bentuk pertanggungjawaban amanah dan sejarah, HNW, yang sejak menjelang Ramadan sudah secara terbuka mengkritisi dan menolak tindakan Zionis Israel atas Masjid Al-Aqsha dan umat Islam yang hendak sholat tarawih di Masjid Al-Aqsha, kembali mengingatkan pimpinan umat Islam, baik di OKI, Liga Arab, ormas-ormas Islam, maupun para ulama dan tokoh umat Islam seluruh dunia, agar benar-benar serius menyelamatkan Masjid Al-Aqsha dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki, termasuk momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H agar menjadi bukti keseriusan kepedulian terhadap nasib dan eksistensi Masjid Al-Aqsha.
HNW mengingatkan agar umat, sesuai kewenangan dan kemampuannya, memperjuangkan pembukaan Masjid Al-Aqsha dan pembebasannya dari penguasaan dan penjajahan Zionis Israel. Ia mewanti-wanti hal ini karena khawatir bahwa apabila momentum besar Idulfitri yang di luar Masjid Al-Aqsha semarak dengan syiar Islam, tetapi tragedi Masjid Al-Aqsha yang sepi karena ditutup Israel dibiarkan tanpa kepedulian, maka hal itu akan membuat Zionis Israel semakin berani untuk melanjutkan penutupan Masjid Al-Aqsha secara permanen.
“Hal itu juga akan membuat mereka semakin leluasa mewujudkan agenda mendirikan klaim adanya Kuil atau Haikal Sulaiman di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsha sebagai bagian dari perwujudan klaim negara Israel Raya. Itu juga berarti mengubur cita-cita menghadirkan negara Palestina, bahkan dalam bentuk dua negara sekalipun. Bila dibiarkan terjadi, maka hal itu selain menjauhkan hadirnya perdamaian juga tidak sesuai dengan fitrah umat Islam dan tidak sejalan dengan prinsip bahwa Idulfitri adalah satu dari dua hari raya bergembiranya umat Islam. Karena mereka akan berduka dengan hilangnya Masjid Al-Aqsha, baik eksistensinya maupun peran mensejarahnya. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Maka bila umat menuntut penghentian perang, umat juga jangan pernah melupakan Masjid Al-Aqsha, karena melanjutkan perang dan melupakan Masjid Al-Aqsha itu juga agenda penjajah Israel,” tuturnya.
Lebih lanjut, HNW mengingatkan peran para pihak yang paling berkewenangan, “Apalagi bila para pemimpin umat yang paling berkewenangan seperti OKI dan Yordania, mestinya mereka benar-benar efektif melaksanakan amanah menjaga dan menyelamatkan Masjid Al-Aqsha agar tindakan semena-mena Israel dengan menutup Masjid Al-Aqsha dapat diakhiri, dan Masjid Al-Aqsha dapat dibuka serta dibebaskan. Agar umat manusia dapat kembali kepada fitrah beragama yang damai. Dan Hari Raya Idulfitri besok adalah salah satu momentumnya,” tutupnya.