Majalengka (18/03) — Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, mendorong penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar oleh Baraya Ateng Sutisna (BAS) Dapil 5 Kabupaten Majalengka. Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah Aspirasi Saung Nganteur Kahayang, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji, Selasa (17/03/2026), dan dirangkaikan dengan buka puasa bersama masyarakat.
Mengusung tema “Ramadan: Bulan Kemanusiaan, Berbagi, Menguatkan, dan Memulihkan sesuai Empat Pilar Kebangsaan”, kegiatan ini diisi dengan pemaparan materi kebangsaan, dialog warga, serta aksi berbagi sebagai bentuk penguatan nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
Ateng Sutisna menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi Empat Pilar merupakan bagian dari mandat kelembagaan MPR RI sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014, yaitu memasyarakatkan nilai-nilai dasar kebangsaan kepada seluruh lapisan masyarakat.
“Melalui sosialisasi ini, kami ingin menghadirkan Ramadan sebagai ruang pendidikan kebangsaan: memperkuat kemanusiaan, menghidupkan budaya berbagi, dan meneguhkan persatuan. Empat Pilar bukan sekadar materi, tetapi pedoman nyata dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Ateng.
Ia menjelaskan, nilai-nilai Ramadan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata seperti saling berbagi, membangun dialog, dan memperkuat solidaritas sosial yang berdampak pada kohesi masyarakat serta optimisme pemulihan.
Dalam paparannya, Ateng mengaitkan nilai-nilai Empat Pilar dengan praktik kehidupan masyarakat. Pancasila, menurutnya, tercermin dalam semangat kemanusiaan, gotong royong, dan keadilan sosial yang diwujudkan melalui aksi berbagi dan pemulihan ekonomi keluarga. Sementara UUD 1945 menjadi landasan penting dalam membangun kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara secara konstitusional.
Baca Juga: Ateng Sutisna Kuatkan Empat Pilar Kebangsaan Lewat Aksi Sosial di Bulan Ramadan
Adapun semangat NKRI, lanjutnya, harus diwujudkan dalam penguatan solidaritas lintas wilayah, sementara Bhinneka Tunggal Ika menjadi fondasi dalam menjaga toleransi, adab perbedaan, dan kerja sama di tengah keberagaman masyarakat.
Ateng menambahkan, Ramadan menjadi momentum strategis untuk memperkuat karakter kebangsaan. Pada level nilai, Ramadan mengajarkan empati dan kemanusiaan. Pada level kehidupan bersama, UUD 1945 menjadi rujukan agar kepedulian sosial berjalan adil dan tertib. Pada level persatuan, NKRI menguatkan gotong royong lintas wilayah, dan pada level kerukunan, Bhinneka Tunggal Ika menegaskan pentingnya menjaga harmoni dalam perbedaan.
Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat budaya dialog dan musyawarah di tingkat komunitas, sekaligus mendorong aksi berbagi yang terukur dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pemulihan sosial masyarakat.
Ateng menutup dengan menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan harus hadir secara nyata di tengah masyarakat. Ramadan mengajarkan kita untuk peduli. Karena itu, Empat Pilar dibawa lebih dekat ke warga agar nilai persatuan dan toleransi tidak berhenti di slogan.
Melalui kegiatan ini, Ateng Sutisna menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pemahaman kebangsaan di tengah masyarakat, sekaligus membangun solidaritas sosial yang menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa.