Purwakarta (17/03) — Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI Tahap III Tahun 2026 yang menghadirkan Anggota MPR RI Fraksi PKS, Jalal Abdul Nasir, dilaksanakan pada Senin pagi, 16 Maret 2026, di Aula Albina, Cisereuh, Kabupaten Purwakarta, bersama masyarakat setempat.
“Peristiwa longsornya gunungan sampah di TPST Bantargebang yang menelan korban jiwa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan dengan sistem yang semakin aman dan berkelanjutan,” ujar Jalal.
Perhatian terhadap peristiwa tersebut turut disampaikan dalam forum sosialisasi sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat sekaligus dorongan agar tata kelola pengelolaan sampah nasional semakin diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Momentum ini harus dimaknai sebagai penguatan kesadaran bersama bahwa pengelolaan lingkungan, termasuk sampah, merupakan bagian dari tanggung jawab kolektif bangsa,” tutur legislator PKS yang dikenal aktif menyuarakan isu keberlanjutan tersebut.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan pentingnya nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai landasan moral dalam membangun budaya menjaga lingkungan dan keselamatan publik.
“Ketika nilai Pancasila benar-benar dijalankan, maka kepedulian terhadap lingkungan, keselamatan masyarakat, dan keberlanjutan pembangunan akan menjadi bagian dari karakter bangsa,” jelas Jalal dalam paparannya.
Baca Juga: Aleg PKS Jalal Dorong Integrasi Data Nasional untuk Kebijakan Energi Tepat Sasaran
Peristiwa di fasilitas pengelolaan sampah tersebut dipandang sebagai pengingat pentingnya upaya mitigasi risiko di kawasan dengan volume timbunan sampah tinggi, termasuk peningkatan standar keselamatan operasional di berbagai fasilitas pengolahan sampah terpadu.
“Kita tentu berharap setiap tempat pemrosesan akhir sampah di Indonesia memiliki sistem pengamanan yang semakin baik, sehingga kejadian serupa dapat dicegah melalui perencanaan dan pengawasan yang lebih kuat,” ungkapnya.
Forum sosialisasi kebangsaan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang dialog dengan masyarakat mengenai tantangan lingkungan, penguatan partisipasi publik, serta pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.
“Melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan, kita ingin menghadirkan semangat gotong royong untuk membangun tata kelola lingkungan yang lebih baik demi keselamatan masyarakat dan masa depan generasi mendatang,” tutup Jalal Abdul Nasir.