Jakarta (12/03) – Ketua BKSAP DPR RI Fraksi PKS, Syahrul Aidi Maazat, mengingatkan pemerintah untuk segera menyiapkan langkah mitigasi menghadapi dampak konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat yang dinilai berpotensi berlangsung panjang.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi PKS Legislative Report jelang Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (10/03) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Menurut Syahrul, eskalasi konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dan berpotensi memberikan tekanan serius terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.
“Ini bahwasannya perang antara Iran, Israel, dan Amerika ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Nampaknya perang ini akan panjang. Tentu situasi ini akan mempengaruhi ekonomi global dan termasuk tentunya Indonesia,” ujarnya.
Ia menyoroti lonjakan harga minyak dunia sebagai indikator awal dampak konflik tersebut.
“Yang jelas harga minyak sekarang sudah melampaui 90 dolar per barel yang sebelumnya hanya 62 dolar. Dan tentu pemerintah, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah harus melakukan mitigasi,” tegasnya.
Syahrul menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak akan berdampak pada distribusi dan pasokan, yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi ekonomi nasional hingga tingkat masyarakat. Karena itu, langkah antisipatif harus dilakukan sejak dini, bukan menunggu situasi memburuk.
Baca juga: Johan Rosihan: Gejolak Perang Iran–Israel dan Kenaikan Harga Minyak Ancam Stabilitas Pangan Nasional
Salah satu strategi mitigasi yang ia dorong adalah memperkuat produksi pangan berbasis masyarakat.
“Dan di antara mitigasinya itu adalah mendorong masyarakat untuk melakukan produksi, turun ke masyarakat. Karena dalam keadaan perang itu katanya yang paling aman adalah orang yang menguasai pangan,” jelasnya.
Ia menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun kedaulatan pangan, mulai dari sumber daya alam yang melimpah hingga tanah yang subur dan dapat ditanami sepanjang tahun.
“Indonesia dengan kekayaan alamnya, tanah yang subur, yang bisa menanam kapanpun, ayo kita ketahanan pangannya betul-betul kita laksanakan di tingkat masyarakat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Kalau kita punya pangan, insya Allah kita bisa survive,” pungkasnya.
Syahrul menegaskan bahwa penguatan ketahanan dan kedaulatan pangan harus menjadi bagian dari strategi nasional menghadapi ketidakpastian geopolitik global.