Makassar (16/02) — Dahulu, perempuan sering kali mengalami stereotipe, hidup hanya untuk urusan domestik dalam rumah tangga. Kuatnya budaya patriarki yang menempatkan kaum lelaki sebagai superior di tanah air menjadi hambatan utama kehadiran dan peranan perempuan di ruang publik.
Namun, seiring perkembangan zaman, persepsi itu agaknya berkurang. Banyak urusan perempuan yang juga harus diselesaikan perempuan di ranah publik sedikit membuka kran pemikiran masyarakat Indonesia tentang masalah ini.
Terutama pula setelah berkembangnya isu-isu gender, perubahan politik, dan berkembangnya tafsir-tafsir keagamaan yang lebih moderat tentang posisi perempuan dan laki-laki di ranah domestik maupun ruang publik.
Rupanya, banyak pekerjaan domestik seharusnya bisa dilakukan oleh laki-laki sehingga beban ganda perempuan sedikit berkurang dan bisa berkiprah lebih banyak di ruang publik.
Namun demikian, tantangan perempuan bukan berarti hilang. Justru kian besar di tengah perkembangan teknologi digital saat ini. Selain stereotipe perempuan dan urusan domestik, kini perempuan lebih sering mengalami kekerasan ganda.
Cyberbullying, pelecehan seksual digital, doxing, hingga penyebaran konten intim tanpa izin adalah kenyataan yang banyak dialami perempuan di ruang digital.
Berbagai persoalan itu diungkapkan oleh anggota DPR RI, Meity Rahmatia, dalam kuliah umum bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Koordinator Komisariat Universitas Muhammadiyah Makassar pada Minggu (15/02/2026).
Diskusi yang berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi, Lantai 8, Gedung Iqra tersebut mengusung tema “Kepemimpinan Perempuan, Strategi Merebut Ruang Publik”. Meity meyakinkan pentingnya peran perempuan di ranah publik, khususnya dalam menyuarakan aspirasi perempuan, termasuk mengadvokasi kekerasan yang dialami perempuan sebagai kelompok rentan.
“Mengapa perempuan harus hadir di ruang publik? Pertama, kita harus membangun pola pikir yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Ya, karena perempuan bukan sekadar pelengkap. Kehadiran perempuan akan mewarnai setiap kebijakan di ruang publik sehingga tidak bias terhadap kedudukan perempuan, dan mewakili kepentingan perempuan yang berjumlah besar dalam semua aspek kehidupan,” jelasnya di depan ratusan peserta yang hadir.
Dengan adanya kesadaran tentang pentingnya peran tersebut, kata Meity, berbagai hambatan seperti budaya patriarki, beban ganda, dan stereotipe gender bisa dilewati.
“Saya sebagai perempuan ketika terjun ke dunia politik, saya membangun cara berpikir, kalau orang lain bisa, saya juga bisa. Ya, untuk merebut ruang di ranah publik, perubahan harus dimulai dari perspektif kita sebagai perempuan,” ungkapnya.
Selanjutnya, jelas politisi yang terpilih dari Dapil Sulsel I itu, perempuan mesti meningkatkan kapasitas atau kompetensi personalnya, menguasai isu dan kebijakan publik, memiliki kemampuan public speaking yang baik, serta memiliki kemampuan analisis.
Tidak hanya itu, lanjutnya, perempuan juga harus memiliki personal branding yang otentik, jejaring dan solidaritas yang luas, serta membangun citra kepemimpinan perempuan yang melayani. “Jadilah diri sendiri. Tunjukkan sisi humanis serta profesionalitas kerja. Fokus satu bidang dan manfaatkan media digital sebagai ruang interaksi langsung dengan konstituen,” jelasnya.
Ada banyak tips tentang kepemimpinan perempuan yang dibagi Meity kepada peserta dalam diskusi ini, dan peserta pun menanggapinya dengan antusias. Beberapa peserta dari IMM bahkan tampil di depan forum menjawab tantangan legislator pusat tersebut untuk menunjukkan kemampuan berbicaranya di depan publik.
Kegiatan yang terselenggara selama beberapa jam itu juga diapresiasi baik oleh Edi Jusriadi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah sebagai tuan rumah. “Saya sangat menyambut baik kedatangan tamu kita, Ibu Meity. Kegiatan ini sebagai bentuk komitmen lembaga kami untuk berkolaborasi dengan semua pihak dalam pengembangan kapasitas mahasiswa Universitas Muhammadiyah,” jelasnya saat memberikan sambutan di awal acara.
Acara ini akhirnya diakhiri dengan pembagian cinderamata berupa buku Empat Pilar kepada setiap peserta. Sebelum meninggalkan lokasi kegiatan, Meity menyampaikan harapannya untuk tetap bisa bekerja sama dengan IMM dalam pengembangan kapasitas dan kepemimpinan mahasiswa di ruang akademik pada masa datang.