Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Okupansi Hotel Pulih, Alqassam Apresiasi Daya Tahan Sektor Pariwisata

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (12/02) — Anggota DPR RI, Izzuddin Alqassam Kasuba, memberikan catatan strategis terkait fluktuasi industri perhotelan nasional sepanjang tahun 2025. Menanggapi laporan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Alqassam menekankan bahwa meskipun sektor ini sempat tertekan, pertumbuhan unit akomodasi di daerah menjadi sinyal positif bagi pemerataan ekonomi, khususnya di wilayah Indonesia Timur dan Maluku Utara.

Izzuddin Alqassam Kasuba menyampaikan apresiasi tinggi kepada para pelaku industri hotel dan restoran yang berhasil melewati masa kritis pada kuartal pertama 2025.

Meski tingkat okupansi sempat anjlok ke angka 33 persen pada Maret lalu, pemulihan hingga 56 persen di akhir tahun dianggap sebagai bukti nyata resiliensi sektor pariwisata Indonesia.

“Kita patut memberikan apresiasi kepada pelaku industri yang tetap bertahan di tengah pergeseran pola belanja masyarakat. Keberhasilan mencapai okupansi 56 persen di akhir tahun menunjukkan bahwa minat perjalanan wisata tetap menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh,” ujar Alqassam.

Namun, Alqassam memberikan evaluasi mendalam terkait penyebab penurunan okupansi di awal tahun. Menurutnya, ketergantungan sektor perhotelan terhadap kegiatan pemerintah dan daya beli masyarakat kelas menengah perlu disikapi dengan diversifikasi pasar. Pertama, pola belanja, perubahan anggaran pemerintah berdampak langsung pada Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).

Kedua, melambatnya ekonomi, penurunan kuartal pertama menjadi pelajaran agar industri tidak hanya bergantung pada satu segmen pasar. Terakhir, infrastruktur pendukung, evaluasi mencatat bahwa biaya logistik dan transportasi ke wilayah timur masih menjadi tantangan bagi konsistensi okupansi.

Secara khusus, legislator asal Maluku Utara ini menyoroti pertumbuhan unit akomodasi sebesar 4,49 persen yang kini lebih merata.

Ia berharap ekspansi ini menjadi momentum bagi percepatan pembangunan pariwisata di wilayah timur Nusantara.

“Pertumbuhan 4,49 persen unit akomodasi ini harus dipastikan menyentuh daerah-daerah potensial di Maluku Utara. Kami berharap pemerintah terus mendorong promosi destinasi nontradisional agar arus wisatawan tidak hanya menumpuk di Jawa atau Bali, tetapi juga mengalir deras ke Indonesia Timur,” tegasnya.

Alqassam menekankan bahwa pariwisata adalah kunci kedaulatan ekonomi daerah. Dengan distribusi akomodasi yang lebih luas, diharapkan tercipta lapangan kerja baru yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara masif pada tahun 2026.