Jakarta (09/02) — Gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 menjadi simbol ambisi besar Indonesia dalam memimpin pasar kendaraan ramah lingkungan.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Maluku Utara, Izzuddin Alqassam Kasuba, menegaskan bahwa transformasi industri otomotif menuju ekosistem listrik harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah penghasil bahan baku, khususnya Maluku Utara.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mencatat bahwa sektor manufaktur telah menyumbang 17,27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2025, dengan lonjakan signifikan di sektor kendaraan listrik.
“Angka 17,27 persen itu bukan sekadar statistik. Di dalamnya ada keringat rakyat Maluku Utara yang tanahnya menjadi sumber nikel dunia. Momentum IIMS 2026 ini harus menjadi titik balik agar Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai ‘tambang’, tetapi sebagai bagian integral dari kemajuan teknologi hijau global,” ujar Alqassam Kasuba.
Alqassam menyoroti bahwa aspirasi utama masyarakat Maluku Utara saat ini adalah pemerataan nilai tambah.
Ia menegaskan percepatan industri kendaraan listrik tidak boleh berhenti pada pembangunan pabrik di Pulau Jawa, tetapi juga harus memperkuat ekosistem industri hilir di Maluku Utara.
“Masyarakat Maluku Utara ingin melihat anak-anak muda kami tidak hanya menjadi buruh kasar, tetapi menjadi teknisi dan tenaga ahli di industri baterai listrik. Kita punya nikelnya, kita punya sumber dayanya, maka sudah seharusnya investasi Rp852 triliun tersebut menyentuh penguatan sumber daya manusia lokal secara masif,” tegasnya.
Beberapa aspirasi utama yang ditekankan oleh Alqassam Kasuba antara lain, pertama, perlunya transformasi ekonomi lokal melalui keterlibatan aktif investor otomotif dunia yang hadir di IIMS 2026 dalam pembangunan infrastruktur sosial dan ekonomi di sekitar wilayah lingkar tambang. Menurutnya, kehadiran industri besar harus memberi dampak langsung bagi masyarakat sekitar, bukan sekadar aktivitas ekstraksi sumber daya.
Kedua, Alqassam menuntut penerapan standar industri ramah lingkungan yang ketat. Ia menegaskan bahwa pengembangan industri hilir di Maluku Utara harus benar-benar berorientasi pada keberlanjutan. “Industri hilir di Maluku Utara harus benar-benar hijau. Jangan sampai kendaraan listrik bersih di kota besar, tetapi menyisakan kerusakan lingkungan di Bumi Moloku Kie Raha,” tambahnya.
Ketiga, ia menekankan pentingnya partisipasi UMKM daerah dalam rantai pasok industri besar. Pelibatan pengusaha lokal dinilai krusial untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan dan memastikan manfaat hilirisasi dirasakan secara merata oleh masyarakat Maluku Utara.
Baginya, keberhasilan Indonesia di IIMS 2026 juga merupakan keberhasilan Maluku Utara. Namun, kedaulatan energi nasional harus sejalan dengan kedaulatan ekonomi rakyat di daerah penghasil.
“Saya akan terus mengawal di DPR agar setiap kebijakan industri otomotif ini memiliki keberpihakan pada daerah. Kita ingin bangga melihat mobil listrik di jalanan Jakarta, sambil mengetahui bahwa rakyat di Halmahera, Obi, dan Weda juga merasakan sekolah yang lebih baik serta layanan kesehatan yang lebih layak,” pungkasnya.