Jakarta (09/02) — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, menyampaikan duka cita yang sangat mendalam atas meninggalnya seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur. Sebagai seorang ibu, Kurniasih mengaku peristiwa ini menyayat hati dan menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak tentang kondisi anak-anak didik di dunia pendidikan.
“Sebagai seorang ibu, saya tidak bisa membayangkan betapa berat beban yang dirasakan ibu dan putranya. Anak seusia itu seharusnya tumbuh dengan rasa aman, bermain, dan belajar dengan gembira, bukan memikul tekanan hidup yang melampaui usianya,” ujar Kurniasih.
Menurutnya, tragedi ini tidak boleh dipandang sebagai kasus individual semata, melainkan cermin adanya ketimpangan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, terutama di daerah-daerah yang secara ekonomi masih tertinggal. Pendidikan dasar seharusnya menjadi ruang yang menenangkan dan melindungi kondisi psikologis anak, bukan justru menambah tekanan akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
“Kita tidak boleh membiarkan satu pun anak merasa sendirian karena kemiskinan. Anak tidak seharusnya merasa malu, takut, atau tertekan hanya karena tidak mampu memenuhi kebutuhan belajar dasar,” tegasnya.
Komisi X DPR RI, lanjut Kurniasih, mendorong penguatan pemerataan kebutuhan pendidikan agar kebutuhan paling mendasar peserta didik seperti buku pelajaran, alat tulis sekolah, pakaian, dan dukungan pembelajaran dapat diakses tanpa membebani anak maupun orang tua. Selain itu, sekolah perlu menjadi ruang aman secara emosional dengan memperkuat pendampingan psikologis bagi peserta didik.
“Kesehatan mental anak lebih penting dari prestasi akademik. Sekolah harus peka membaca tanda-tanda tekanan psikologis pada anak dan memastikan adanya sistem pendampingan yang nyata, terutama di wilayah-wilayah yang rentan,” tambahnya.
Kurniasih menegaskan, peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi bersama agar kebijakan pendidikan benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak. Ia mengajak semua pihak, baik pemerintah, sekolah, orang tua, maupun masyarakat, untuk lebih hadir, lebih peduli, dan lebih mampu memenuhi kebutuhan dasar anak-anak.
“Tidak boleh ada lagi anak yang merasa hidupnya tidak punya harapan karena tidak mampu. Anak-anak kita adalah amanah bangsa, dan sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga mereka, bukan hanya fisiknya, tetapi juga hatinya,” pungkas Kurniasih.