Semarang (06/02) — Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Abdul Fikri Faqih, mendorong Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Jawa Tengah untuk melakukan transformasi orientasi program.
Legislator Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menekankan agar organisasi kepemudaan tidak hanya terpaku pada rutinitas kaderisasi internal, tetapi mulai aktif merangkul pemuda berprestasi di luar struktur organisasi, termasuk lulusan vokasi dan penyandang disabilitas.
Hal tersebut disampaikan Fikri Faqih saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik terkait Pemberdayaan Pemuda di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Semarang, Rabu (4/2/2026).
Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes) ini menyoroti fenomena program OKP yang dinilainya terlalu seragam, yakni didominasi oleh latihan kepemimpinan.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan surplus calon pemimpin, namun minim pengikut atau kolaborator yang memiliki keahlian teknis spesifik.
“Saya menangkap hampir semua programnya adalah latihan kepemimpinan. Jadi ini ingin jadi pemimpin semua. Lalu, ada yang dipimpin tidak ini, Pak?” tanya Fikri memberikan otokritik konstruktif.
Fikri memaparkan solusi konkret berupa simbiosis mutualisme antara aktivis organisasi dan inovator muda. Ia menilai aktivis OKP memiliki keunggulan kompetensi manajerial yang teruji karena terbiasa mengelola kegiatan dalam berbagai keterbatasan.
Sementara di sisi lain, banyak pemuda Jawa Tengah yang memiliki gagasan brilian dan prestasi internasional. Ia mencontohkan Arfian Fuadi dari Salatiga, seorang inventor yang karyanya diakui dunia hingga mengalahkan lulusan doktoral MIT, serta Jay Senjaya Mulia, pendiri ASEAN Youth Organization.
“Teman-teman organisasi itu rata-rata memiliki keterampilan manajerial yang bagus dan teruji. Ini kalau bisa ditularkan kepada inovator muda yang mungkin tidak kuliah, hanya lulusan SMK, tetapi berprestasi internasional. Mereka punya ide, karena ideas are your own only currency,” jelas Fikri.
Jika pemuda berprestasi tersebut sulit direkrut menjadi anggota karena kendala administrasi, seperti syarat status mahasiswa, Fikri menyarankan agar OKP menempatkan mereka sebagai narasumber atau inspirator.
Selain inovator teknologi, Fikri juga menyoroti prestasi pemuda disabilitas yang kerap luput dari radar organisasi kepemudaan.
Ia menyebutkan prestasi tim sepak bola amputasi yang kipernya berasal dari daerah pemilihannya di Jawa Tengah, yang telah berkompetisi hingga ke Turki.
“Kalau bisa mereka juga didekati. Paling tidak dijadikan inspirator. Ada imbal balik; organisasi mendapatkan inspirasi, sementara atlet atau inovator mendapatkan dukungan manajerial,” tambahnya.
Di sisi lain, Fikri berharap pola kolaborasi ini dapat mempercepat terwujudnya pengarusutamaan pemuda (youth mainstreaming) di Indonesia.
Ia membandingkan dengan Singapura yang telah berhasil menempatkan kaum muda profesional sebagai wajah representasi negara.
“Harapan saya, youth mainstreaming tidak hanya menjadi angan-angan. Kalau kita lihat Singapura, utusan negaranya anak muda semua, tampil di depan mewakili negara. Jawa Tengah punya potensi besar untuk itu,” pungkasnya.