Jakarta (27/01) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Reni Astuti, mengapresiasi capaian dan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) terhadap berbagai prestasi olahraga nasional, sekaligus mendorong agar agenda kepemudaan mendapatkan porsi perhatian yang lebih seimbang dan mendalam dalam kebijakan kementerian.
Hal tersebut disampaikan Reni dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang digelar pada Selasa (27/1) di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Reni mengawali pernyataannya dengan menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemenpora terhadap pengembangan olahraga disabilitas, khususnya sepak bola amputasi.
“Kami dari Fraksi PKS menyampaikan terima kasih atas dukungan Kemenpora terhadap Piala Menpora Sepak Bola Amputasi 2025 di Jakarta, juga dukungan terhadap Kualifikasi Piala Dunia Sepak Bola Amputasi Zona Asia yang diselenggarakan di Jakarta,” ujarnya.
Ia berharap dukungan tersebut dapat terus berlanjut pada agenda-agenda mendatang.
“Tentu kita punya harapan agar Kemenpora juga mendukung Piala Menpora Sepak Bola Amputasi 2026 yang rencananya akan diselenggarakan di Bogor,” tambah Reni.
Terkait paparan Menteri Pemuda dan Olahraga, Reni menilai secara umum gambaran besar program kementerian sudah cukup komprehensif, namun ia menyoroti masih dominannya porsi olahraga dibandingkan agenda kepemudaan.
“Secara keseluruhan paparan Pak Menteri sudah menjawab banyak persoalan dan gambaran besarnya sudah bagus. Namun proporsi antara olahraga dan pemuda masih sekitar 70 persen banding 30 persen. Artinya, isu pemuda ini masih belum digarap terlalu dalam,” tegasnya.
Menurut Reni, pembangunan pemuda, termasuk peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda, memang membutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Ia mengapresiasi langkah kolaboratif yang telah dimulai, namun menekankan pentingnya hasil yang terukur.
“Kolaborasi lintas kementerian ini sudah baik dan perlu dilanjutkan, tapi jangan berhenti pada event-event semata. Harus terukur output dan outcome-nya,” jelasnya.
Selain itu, Reni juga menyoroti agenda reformasi birokrasi di tubuh Kemenpora, khususnya terkait budaya kerja aparatur.
“Saya juga menyarankan perhatian pada budaya kerja. Norma, kebiasaan, integritas, dan profesionalitas ini sangat penting karena akan berdampak langsung pada keberhasilan reformasi birokrasi,” katanya.
Menutup pernyataannya, Reni menegaskan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana Kemenpora mampu menyelaraskan program-program yang telah disusun dengan visi besar pembangunan pemuda dan olahraga nasional.
“Program 2026 sudah disusun, tantangannya adalah bagaimana mengubah dan menyelaraskan apa yang sudah ada dengan visi besar yang Pak Menteri sampaikan. Kita tunggu hasilnya di tahun 2026,” pungkas Reni.