Jakarta (23/01) — Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Surahman Hidayat, menyampaikan duka cita mendalam atas jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di kawasan Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Januari 2026, yang telah menelan korban jiwa, termasuk tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Kami menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga penumpang dan awak pesawat yang menjadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta kesabaran,” ujar Surahman.
Surahman juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada tim gabungan yang telah berjuang mengevakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.
“Apresiasi setinggi-tingginya kepada tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AU, Polri, dan BPBD Sulawesi Selatan yang turut melakukan proses pencarian dan membantu mengevakuasi para korban, serta relawan lokal dan masyarakat yang ikut membantu akses medan dan memberikan informasi awal terkait lokasi jatuhnya pesawat,” kata Surahman.
Surahman mengingatkan agar pemerintah memberikan bantuan berupa santunan kepada keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Besaran santunan diatur oleh regulasi pemerintah terkait kecelakaan transportasi udara.
Surahman juga berharap pemerintah, dalam hal ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), segera melakukan investigasi menyeluruh guna mengetahui penyebab kecelakaan, serta memastikan rekomendasi hasil investigasi dilaksanakan untuk mencegah kejadian serupa di kemudian hari.
“Penting dilakukan penguatan standar keselamatan penerbangan, khususnya pada pesawat turboprop yang melayani rute perintis dan daerah terpencil, terlebih dengan kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim,” imbuh Surahman.
Surahman menekankan pentingnya penguatan standar keselamatan melalui modernisasi sistem navigasi dan radar cuaca di bandara perintis agar pilot memperoleh informasi secara real time, pelatihan khusus bagi pilot dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem di rute terpencil, serta peningkatan prosedur operasional standar dan teknologi pesawat sebagai benteng utama mencegah tragedi serupa di masa mendatang.