Tangerang (16/01) — Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid diundang untuk menyampaikan kuliah umum kepada mahasiswa semester ganjil Tahun Akademik 2025/2026 di Institut Asy-Syukriyyah, Tangerang. Dalam kuliah umum tersebut, Hidayat Nur Wahid menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam memiliki potensi yang sangat besar untuk berkontribusi menghadirkan cendekiawan religius yang unggul, berkualitas, cinta bangsa dan negara, serta berwawasan global, dengan tetap berbasis pada nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan, nilai-nilai keislaman, serta berkontribusi menyukseskan program Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB sejak 2015.
“Ruang bagi pendidikan tinggi Islam untuk berkontribusi mempersiapkan hadirnya generasi milenial atau Gen Z yang cendekia, unggul, modern, dan berwawasan global, namun tetap berbasis pada prinsip-prinsip ajaran Islam, cinta bangsa dan negara, agar dalam melaksanakan target-target SDGs tidak tercerabut dari budaya nasional dan religius Islam, sangat terbuka dan tanpa hambatan. Karena itu, pendidikan tinggi Islam seharusnya tidak memubazirkan peluang tersebut, bahkan harus memaksimalkan potensi yang dimilikinya,” kata Hidayat Nur Wahid saat menyampaikan kuliah umum bertema “Pendidikan Tinggi Islam dan Kenegaraan Berbasis SDGs: Membangun Cendekia yang Unggul, Modern, dan Berwawasan Global” di Institut Asy-Syukriyyah, Tangerang, Kamis (15/1/2025).
Kuliah umum tersebut dihadiri Sekretaris Yayasan Asy-Syukriyyah Ahmad Zarkasih, Rektor Institut Asy-Syukriyyah Evan Hamzah Muchtar, para wakil rektor, dekan, ketua program studi, serta ratusan mahasiswa Institut Asy-Syukriyyah, Tangerang.
Hidayat Nur Wahid mengungkapkan bahwa dalam konteks keindonesiaan, hadir dan terealisasinya program-program pendidikan tinggi Islam, visi kenegaraan, nilai-nilai keislaman, dan SDGs tidak dapat dilepaskan dari landasan konstitusional UUD 1945 hasil amandemen, sebagaimana tuntutan reformasi, yaitu Pasal 31 ayat (3), ayat (4), dan ayat (5). Pasal 31 ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Nilai keagamaan dan kenegaraan menyatu dalam pasal tersebut.
Kemudian, Pasal 31 ayat (4) menegaskan bahwa pemerintah mengalokasikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional. Untuk tahun 2026, pemerintah menganggarkan sebesar Rp754 triliun untuk sektor pendidikan. Selanjutnya, Pasal 31 ayat (5) menegaskan bahwa negara memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan nasional.
“Indonesia sering disebut sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia dari sisi jumlah penduduk. Namun, sesungguhnya Indonesia juga terbesar dari sisi jumlah masjid, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam. Perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berjumlah 2.970 perguruan tinggi. Sementara perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama berjumlah 907 perguruan tinggi. Jika dijumlahkan, terdapat sekitar 3.877 perguruan tinggi. Perguruan tinggi Islam berkembang sangat luar biasa,” ujarnya.
Menurut Hidayat Nur Wahid, pendidikan tinggi Islam dalam rangka berkontribusi mewujudkan 17 target SDGs, seperti terciptanya akses pendidikan yang berkualitas, kebersamaan, dan kolaborasi global, tetap harus berbasiskan pada nilai-nilai Islam dan keindonesiaan. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang progresif dalam merealisasikan target SDGs. Dalam laporan tahunan PBB, capaian Indonesia mencapai 62,5 persen, berada di atas rata-rata negara anggota PBB lainnya.
Jika ditarik dari sejarah kebangkitan Indonesia dan umat Islam, kebangkitan tersebut bermula dari keberpihakan pada pendidikan yang unggul.
“Dalam konteks Islam, wahyu pertama justru berbicara tentang membaca dan belajar, namun bersifat religius, yaitu perintah ‘Iqra bismi rabbika’. Artinya, pendidikan dijadikan Islam sebagai asas kebangkitan umat, bangsa, dan peradaban. Hal ini dapat dilihat dari jejak sejarah cendekiawan muslim seperti Al-Khawarizmi di bidang matematika dan Ibnu Sina di bidang kedokteran. Karena itu, kehadiran cendekiawan muslim unggulan kelas dunia perlu menjadi spirit dan inspirasi bagi pendidikan tinggi Islam, termasuk Institut Asy-Syukriyyah,” jelasnya.
Selain itu, pendidikan tinggi Islam, sesuai jati diri dan sebagai bagian dari target SDGs, juga perlu berkolaborasi dengan masyarakat global, seperti perguruan tinggi Islam di Timur Tengah dan kawasan lainnya. Oleh karena itu, Hidayat Nur Wahid menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tentang “Kampus Berdampak” dinilainya memberi ruang visioner bagi perguruan tinggi untuk berperan aktif, berkualitas, dan berdampak positif bagi masyarakat.
“Kondisi ini patut disyukuri. Sejalan dengan nama Institut Asy-Syukriyyah, seluruh potensi yang dimiliki harus terus dimaksimalkan untuk berkontribusi mempersiapkan cendekiawan muda yang unggul, modern, berwawasan global, serta cinta umat, bangsa, dan negara,” tutupnya.