Makassar (23/12) — Anggota DPR RI, Meity Rahmatia, mengucapkan selamat Hari Ibu kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ia mengatakan, hari istimewa yang diperingati setiap tanggal 22 Desember ini merupakan simbol penghormatan atas peran dan jasa ibu dalam kehidupan.
“Hari ini adalah bentuk penghormatan yang diberikan negara kepada ibu. Tak ada kata-kata yang benar-benar bisa mewakili untuk mengungkap peran dan jasa ibu dalam kehidupan kita. Dalam bait lagu anak-anak, ibu digambarkan sebagai sosok yang selalu memberi dan tak pernah mengharap kembali. Pengorbanannya sangat besar, mulai dari mengandung, melahirkan, merawat, hingga membimbing dan mendidik anak-anaknya sampai dewasa. Bahkan, tak jarang masih turut mengurusi cucu,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Meity, sudah selayaknya momentum Hari Ibu dijadikan ruang refleksi bagi setiap insan untuk kembali mengingat kebersamaan dengan ibu.
“Bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kita berikan kepada ibu? Maka bagi yang masih memiliki ibu atau orang tua, berikanlah hadiah terbaik. Apa pun itu, walau hanya berupa kalimat-kalimat yang mampu membesarkan hati ibu. Bisa berupa ungkapan cinta, rasa sayang, permohonan maaf, dalam bentuk kecupan, pelukan, dan lainnya. Doakan selalu ibu, terlebih bagi yang telah tiada, doakan dalam setiap waktu dan salat,” katanya.
Politisi asal Sulawesi Selatan yang kini duduk di Komisi XIII DPR RI tersebut juga menegaskan bahwa peran ibu saat ini semakin sentral, terutama dalam konteks kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan.
“Peran dan tugas ibu semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital. Era ini menciptakan lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan beberapa puluh tahun silam,” ujarnya.
“Dalam segala aspek—baik sosial, ekonomi, budaya, agama, politik, dan lainnya—kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi sosok ibu sebagai madrasah pertama bagi anak dalam keluarga,” jelasnya.
Ia menambahkan, di era digital banyak hal mengalami perubahan, terutama dalam perilaku serta cara berinteraksi dan berkomunikasi masyarakat global.
“Pergaulan sosial di era digital semakin terbuka, luas, dan bebas. Di dunia daring, setiap orang bisa berjejaring dengan siapa pun tanpa dibatasi sekat negara, khususnya di kalangan anak-anak muda atau Generasi Z,” katanya.
“Luasnya pergaulan di media sosial membawa banyak dampak positif. Jejaring generasi kita menjadi lebih luas, sumber informasi dan referensi semakin banyak, mudah, murah, dan cepat. Jejaring sosial yang luas juga membuka peluang usaha,” imbuhnya.
Namun, menurut Meity, aspek lain juga perlu mendapat perhatian serius karena pergaulan sosial membentuk mental, pikiran, dan perilaku seseorang.
“Dengan keterbukaan yang ada di era digital, sedikit banyak anak-anak dan generasi kita akan dibentuk oleh lingkungan digital ini,” jelasnya.
Selama yang diserap bersifat positif, tentu tidak menjadi persoalan. Namun masalah muncul ketika anak-anak justru lebih banyak terpapar konten negatif.
“Multiplatform dan melimpahnya informasi di era digital juga menghadirkan tantangan seperti informasi bias dan hoaks yang mudah tersebar secara masif, akun palsu, penipuan daring, judi online, jaringan narkoba, serta perundungan dan kekerasan visual,” ungkapnya.
Yang tak kalah penting, menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera tersebut, adalah ancaman terhadap agama, budaya, dan ideologi negara.
“Dalam konteks inilah, menurut saya, peran seorang ibu semakin dibutuhkan dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak. Para ibu dapat melakukan literasi intensif di rumah, memberi pemahaman mana informasi yang penting, bermanfaat, dan dibutuhkan, serta mana yang tidak,” jelasnya saat dihubungi terkait peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2025.