Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Dilantik Menteri Kebudayaan sebagai Ketua Umum KPSTI, Mahfudz Abdurrahman: Mari Jaga Kebudayaan Pencak Silat sebagai Warisan Bangsa!

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (19/12) — Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) kembali menegaskan tekadnya sebagai penjaga warisan budaya bangsa dengan menyelenggarakan kegiatan Tasyakur dan Tafakur Retrospeksi Enam Tahun Pencatatan Tradisi Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Kegiatan ini digelar di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, pada 14 Desember 2025.

Dalam kesempatan tersebut, Mahfudz Abdurrahman, yang juga dilantik secara simbolik sebagai Ketua Umum KPSTI periode 2024–2028, menyampaikan bahwa pengakuan UNESCO harus dimaknai sebagai tanggung jawab kolektif untuk memastikan tradisi pencak silat terus hidup dan berkembang.
“Ini adalah amanah budaya yang harus kita jaga bersama sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujarnya.

Pengakuan UNESCO terhadap pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Umat Manusia pada 12 Desember 2019 di Bogotá, Kolombia, tidak hanya membawa kebanggaan, tetapi juga amanat besar untuk menjaga kelestarian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Pencak silat diakui bukan sekadar seni bela diri, melainkan tradisi yang sarat nilai filosofis, mental-spiritual, serta karakter bangsa yang diwariskan lintas generasi.

Dukungan pemerintah turut memperkuat upaya pelestarian tersebut. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hadir dalam kegiatan ini dan menyampaikan apresiasi atas inisiatif KPSTI dalam melakukan refleksi strategis terhadap pengembangan pencak silat tradisi. Ia menegaskan urgensi memasukkan pencak silat ke dalam kurikulum pendidikan formal serta pentingnya dokumentasi yang serius agar warisan ini tetap hidup dalam memori kolektif bangsa.

“Kita membutuhkan strategi yang tidak hanya sekadar merayakan pencapaian, tetapi juga terus mengokohkan nilai-nilai luhur pencak silat dalam kehidupan masyarakat, pendidikan, dan diplomasi budaya global,” tegas Menteri Kebudayaan.

KPSTI didirikan untuk mengemban tugas besar tersebut, yakni melestarikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan pencak silat tradisi sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia. Organisasi ini bergerak tidak hanya dalam pelatihan dan pendidikan bela diri, tetapi juga memfasilitasi kegiatan budaya, lokakarya, serta kolaborasi dengan lembaga pemerintah dan komunitas agar pencak silat tetap relevan di tengah kehidupan modern.

Momentum refleksi enam tahun ini juga menjadi ruang evaluasi atas berbagai tantangan yang dihadapi, di antaranya adaptasi tradisi silat terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan esensi nilai filosofisnya, serta perluasan daya tarik bagi generasi muda di era digital. Mahfudz menekankan pentingnya strategi pelestarian berkelanjutan melalui dokumentasi, festival budaya, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan.

Mahfudz, yang dikenal aktif di dunia politik, menegaskan bahwa tanggung jawabnya bukan hanya memimpin organisasi, tetapi juga memperkuat peran KPSTI sebagai penjaga nilai-nilai luhur pencak silat. Menurutnya, pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan medium pembentukan karakter bangsa. Ia mengajak seluruh pengurus, perguruan, komunitas, dan pemerintah untuk bersinergi dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya tersebut.

Sementara itu, Dr. Nur Ali, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Umum KPSTI, menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Mahfudz Abdurrahman. Ia berharap kepemimpinan baru mampu membawa pencak silat tradisi ke ranah yang lebih luas, terutama di era digital yang ditandai oleh perubahan cepat dalam tren budaya.

Dengan latar sejarah panjang pencak silat sebagai bagian dari jati diri bangsa, KPSTI di bawah kepemimpinan Mahfudz Abdurrahman menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya ini tidak hanya sebagai pengakuan di atas kertas internasional, tetapi sebagai nilai karakter yang terus hidup dan diwariskan secara nyata dari generasi ke generasi.