Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

DPR RI Soroti Urgensi Cetak Biru Sepak Bola dan Revisi DBON di Tengah Dinamika Olahraga 2025

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (28/11) — Tahun 2025 menjadi periode penuh warna bagi dunia olahraga Indonesia, yang diwarnai oleh kilau prestasi dunia hingga catatan evaluasi kritis terkait tata kelola dan diplomasi internasional.

Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai bahwa meskipun atlet nasional menorehkan sejarah gemilang di panggung dunia, pemerintah perlu segera melakukan pembenahan mendasar, termasuk revisi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dan penyusunan cetak biru atau blueprint yang terintegrasi untuk seluruh cabang olahraga.

Legislator dari fraksi PKS ini menegaskan bahwa keberadaan cetak biru sepak bola nasional adalah hal yang mutlak diperlukan.
Menurutnya, pedoman strategis ini tidak hanya berlaku untuk sepak bola, melainkan harus dimiliki oleh setiap cabang olahraga dan wajib terintegrasi dalam skema besar DBON.

“Hal ini dinilai krusial agar pembinaan prestasi tidak berjalan parsial, melainkan terstruktur menuju target jangka panjang yang terukur,”kata Fikri, dalam keterangannya, Kamis (27/11/2025) di Jakarta.

Lebih lanjut, Fikri mengungkapkan bahwa tahun 2025 mencatatkan tinta emas bagi Indonesia, khususnya pada cabang olahraga individu. Ia mengapresiasi capaian fenomenal di ajang IWF World Championship 2025 di Norwegia, di mana lifter Rizki Juniansyah sukses memborong dua medali emas sekaligus memecahkan rekor dunia untuk angkatan Clean & Jerk.

Prestasi serupa juga ditunjukkan oleh Desak Made Rita Kusuma Dewi yang meraih emas nomor speed pada ajang The World Games 2025 di Tiongkok, serta sejarah baru yang tercipta saat Timnas Sepak Bola U-17 berhasil lolos ke Piala Dunia U-17 usai menumbangkan Yaman.

Namun, di balik deretan prestasi tersebut, Fikri menyoroti adanya pekerjaan rumah besar terkait evaluasi kebijakan dan hubungan internasional. Salah satu isu paling krusial adalah kita harus tetap konsisten pada konstitusi bernegara anti penjajahan meski dengan resiko dapat teguran keras dari Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada Oktober 2025. Pembekuan dialog terkait rencana Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade terjadi akibat masalah visa atlet Israel pada Kejuaraan Dunia Senam Artistik di Jakarta.

Selain isu diplomasi, evaluasi juga menyasar target DBON yang dinilai kurang realistis jika disandingkan dengan dukungan anggaran dan sport science yang ada. Fikri menyambut baik langkah Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga, Taufik Hidayat, yang berencana merevisi DBON agar target prestasi lebih logis. Ajang SEA Games 2025 di Thailand pun dicanangkan sebagai tolok ukur utama untuk menerapkan sistem promosi dan degradasi bagi cabang olahraga prioritas.

Menanggapi fenomena rangkap jabatan Erick Thohir sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Fikri memberikan pandangan yang objektif.

Ia menyebut kondisi tersebut agak mengganggu, namun belum tentu memengaruhi prestasi secara negatif.

“Perlu kajian akademik yang serius untuk menentukan apakah rangkap jabatan tersebut menghambat kinerja atau justru memberikan keuntungan strategis bagi percepatan prestasi sepak bola nasional,”pungkas legislator dari daerah pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah (kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) ini.