Jakarta (27/11) — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, menegaskan bahwa Indonesia saat ini mencatat peningkatan signifikan pada produksi beras dan jagung. Meski demikian, pekerjaan besar masih menanti pemerintah untuk menyelesaikan ketergantungan pada komoditas gula dan kedelai. Hal itu disampaikan Kharis dalam Diskusi Dialektika Demokrasi yang digelar Koordinatoriat Wartawan Parlemen di Kompleks DPR RI, Jakarta.
Kharis menilai peningkatan produksi dua komoditas utama beras dan jagung merupakan capaian penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Menurutnya, tren peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sektor pangan berada pada arah yang benar.
“Produksi beras meningkat dan sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Jagung juga mencatat kenaikan signifikan dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai swasembada,” ujar Kharis.
Namun, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah lengah terhadap komoditas lain yang masih jauh dari kemandirian. Kedelai hingga kini masih bergantung pada impor sekitar 2,6 juta ton per tahun, sementara gula membutuhkan reformasi menyeluruh agar bisa mendekati target swasembada.
“Kedelai masih kita impor dalam jumlah besar. Ini ironis mengingat konsumsi tempe sangat tinggi di Indonesia. Sementara itu, gula masih jauh dari swasembada. Ini PR besar kita bersama,” tegasnya.
Kharis menilai bahwa keberhasilan meningkatkan produksi beras dan jagung harus diikuti dengan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem produksi kedelai dan gula, mulai dari penyediaan benih unggul, perbaikan infrastruktur pertanian, ketersediaan pupuk, hingga modernisasi industri pengolahan.
Ia juga menekankan bahwa revisi Undang-Undang Pangan menjadi kunci dalam memperkuat arah kebijakan pangan nasional. Proses revisi dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Titik Soeharto, dan ditargetkan selesai pada Juni 2026.
“Kedaulatan pangan harus diwujudkan melalui regulasi yang kuat dan kebijakan lintas sektor yang terintegrasi. Pangan ini bukan hanya soal produksi, tapi soal kemandirian bangsa,” ujarnya.
Menutup paparannya, Kharis menegaskan bahwa momentum kenaikan produksi beras dan jagung harus menjadi pijakan untuk mempercepat perbaikan pada sektor kedelai dan gula.
“Pangan adalah fondasi ketahanan sebuah bangsa. Jika fondasinya kuat, Indonesia akan kuat,” tutupnya.