Jakarta (09/11) — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Ledia Hanifa Amaliah, menegaskan bahwa penyelenggaraan Kualifikasi Piala Dunia Sepakbola Amputasi 2026 Zona Asia di Stadion Madya Gelora Bung Karno bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi momentum penting untuk memperkuat ekosistem olahraga disabilitas di Indonesia.
Dalam pembukaan laga kualifikasi pada Minggu (09/11), Ledia menekankan bahwa kompetisi internasional seperti ini mendorong peningkatan prestasi sekaligus memupuk sinergi antara seluruh pemangku kepentingan olahraga disabilitas, mulai dari pemerintah, federasi, pelatih, hingga para atlet.
“Piala Asia kualifikasi Piala Dunia Sepakbola Amputasi adalah ajang peningkatan prestasi, membangun sinergi dan kolaborasi. Ini jadi bagian penting dari upaya kita untuk mengubah paradigma dari charity base menjadi rights base,” ujar Ledia.
Ia menyampaikan bahwa perubahan paradigma tersebut sangat krusial agar pembangunan olahraga disabilitas tidak lagi bergantung pada belas kasihan atau gerakan berbasis kebaikan spontan, tetapi diarahkan menjadi pemenuhan hak, dukungan sistemik, dan kebijakan yang terstruktur.
Ledia juga memberikan dukungan penuh kepada Timnas Sepakbola Amputasi Indonesia yang tengah berjuang pada kualifikasi zona Asia. Meskipun persaingan cukup berat, ia berharap Timnas Garuda Amputee mampu membuka peluang untuk kembali tampil di panggung dunia. Adapun dalam laga perdana kualifikasi ini, Indonesia menang lima gol tanpa balas atas Suriah.
“Meskipun berat, kita tetap berharap semoga Indonesia berkesempatan kembali mengikuti Piala Dunia di Costa Rica 2026 nanti mewakili Asia,” ungkapnya.
Sebagai informasi, Timnas Indonesia sebelumnya berhasil mencatat sejarah dengan tampil di Piala Dunia Sepakbola Amputasi 2022 di Turki. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa para atlet amputasi Indonesia memiliki potensi besar dan layak mendapatkan dukungan yang berkelanjutan.
Ledia menutup keterangannya dengan mengajak seluruh pihak untuk menjadikan momen kualifikasi ini sebagai pemacu peningkatan dukungan terhadap pembinaan olahraga disabilitas nasional, baik dari sisi regulasi, pendanaan, fasilitas, maupun kesempatan tampil di ajang internasional.
