Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Syahrul Aidi Dorong Pemerintah Atasi 2.000 Desa Blank Spot dan Kembangkan Desa Go International

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (04/11) — Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Syahrul Aidi Maazat, mendorong pemerintah untuk segera menuntaskan persoalan 2.000 desa di Indonesia yang masih mengalami blank spot atau belum terhubung internet. Ia menilai kesenjangan akses digital menjadi hambatan nyata bagi pemerataan pembangunan dan potensi ekonomi desa.

Hal ini disampaikan Syahrul Aidi dalam program PKS Legislative Report, menjelang Rapat Paripurna Pembukaan Masa Sidang DPR RI, di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/11).

“Masih ada sekitar 2.000 desa yang belum tersambung internet. Riau termasuk di antara wilayah yang terdampak. Mudah-mudahan ini bisa segera kita perjuangkan bersama pemerintah,” ujar Syahrul Aidi.

Anggota Komisi I DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) itu menegaskan, akses internet bukan lagi kebutuhan sekunder, tetapi menjadi infrastruktur dasar yang menentukan kemajuan pendidikan, layanan publik, hingga ekonomi desa.

“Konektivitas digital harus menjadi prioritas nasional. Internet hari ini bukan sekadar sarana komunikasi, tapi kunci bagi desa untuk berkembang, berinovasi, dan membuka peluang ekonomi baru,” tegasnya.

Selain persoalan konektivitas, Syahrul Aidi juga mengangkat gagasan “Desa Go International”, yakni upaya mendorong produk-produk lokal berbasis masyarakat agar bisa menembus pasar global. Ia menyebut potensi besar Indonesia di sektor rempah-rempah dan hasil alam tropis perlu digarap lebih serius melalui kemitraan dengan KBRI dan jaringan luar negeri.

“Kita sedang berupaya menghubungkan desa-desa dengan KBRI dan negara-negara yang membutuhkan produk seperti cengkeh, kayu manis, vanili, dan daun salam. Produk ini berbasis masyarakat, bukan industri besar, tapi punya potensi besar di pasar global,” jelasnya.

Menurut Syahrul Aidi, Indonesia semestinya mengambil pelajaran dari sejarahnya sendiri, ketika bangsa ini menjadi incaran dunia karena kekayaan rempah-rempahnya.

“Dulu Indonesia dijajah karena rempah-rempah, tapi sekarang justru sektor itu kurang mendapat perhatian. Padahal Eropa dan negara lain semakin membutuhkan bahan alami untuk pangan dan obat-obatan. Kita negara tropis, tanah subur, bisa tanam sepanjang tahun. Ini aset besar yang harus dioptimalkan,” ujarnya.

Politisi PKS asal Riau itu berharap pemerintah dapat menaruh perhatian lebih besar pada pemerataan akses digital dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal agar desa-desa di Indonesia tidak hanya maju, tapi juga bisa berdaya saing di pasar global.