Tegal (23/10) — Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengancam akan memberikan sanksi dan melarang Indonesia menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional menyusul keputusan Pemerintah Indonesia menolak pemberian visa bagi delegasi Israel untuk bertanding di Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta.
Menanggapi ancaman tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Dr. H. Abdul Fikri Faqih, M.M., menegaskan bahwa sikap Indonesia yang menolak Israel adalah tindakan konsisten yang didukung Konstitusi dan harus dipertahankan.
“Kita harus mendukung pernyataan Presiden di sidang umum ke-80 PBB. Beliau sangat keras terhadap Israel dan belum bisa membuka hubungan diplomatik,” kata Fikri, dalam keterangannya, Kamis (23/10/2025).
Fikri Faqih menjelaskan bahwa perspektif DPR dalam isu ini adalah perspektif politik dan kebijakan. Ia menyoroti sensitivitas masyarakat Indonesia terhadap isu Israel.
“Masyarakat Indonesia kan sangat sensitif ini terhadap isu Israel yang sampai sekarang masih belum mau mengakui Palestina dan sebagainya. Dan Pak Presiden tetap konsisten selama Israel belum mau mengakui Palestina, ya selama itu juga Indonesia tidak mau mengakui Israel,” tegasnya.
Ia juga khawatir, apabila Israel diizinkan bertanding, akan terjadi eskalasi penolakan dari masyarakat yang jauh lebih besar di Indonesia, yang berpotensi mengganggu kondusivitas event.
Lebih lanjut, legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari daerah pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah (Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) ini juga menyoroti adanya double standard atau inkonsistensi dari IOC sendiri.
Ia membandingkan bagaimana IOC pernah melarang atau menangguhkan negara lain—seperti Rusia—yang melakukan invasi, tetapi memiliki sikap berbeda terhadap Israel.
“Kita enggak mau ya, mengungkit IOC karena hipokrit juga ya, karena juga tidak konsisten di beberapa negara,” kata Fikri.
Ia menekankan bahwa sanksi dari IOC tidak boleh menyurutkan sikap Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina.
Meskipun Indonesia berisiko kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah, Fikri optimis bahwa hal tersebut tidak akan mengganggu prestasi olahraga nasional maupun internasional.
Ia memastikan, arahan Presiden untuk konsisten itu didukung penuh oleh jajaran menteri.
Fikri juga berharap Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) dapat menjaga konsentrasi pada 17 cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade, dan fokus pada pencapaian prestasi di tingkat global.
“Termasuk Desain besar olahraga nasional (DBON), itu tetap kita akan berprestasi di kancah dunia, termasuk Olimpiade,” pungkasnya.