Madiun (05/10) — Komisi XI DPR RI menilai bahwa langkah modernisasi teknologi di PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas perusahaan. Anggota Komisi XI, Amin Ak, menyampaikan hal ini saat kunjungan kerja ke fasilitas produksi PT INKA di Madiun, Jawa Timur, akhir pekan lalu.
Menurutnya, penerapan sistem produksi modern, termasuk penggunaan robot dan digitalisasi manufaktur, mampu memangkas durasi produksi kereta api secara drastis. Jika sebelumnya proses pembuatan dari tahap desain hingga penyelesaian membutuhkan waktu 24 bulan, kini dapat diselesaikan hanya dalam 16 bulan. Efisiensi waktu delapan bulan ini berdampak langsung pada penurunan biaya produksi, peningkatan margin keuntungan, dan optimalisasi pendapatan perusahaan.
“Efisiensi ini bukan semata untuk keuntungan perusahaan, tetapi juga berkontribusi pada dividen BUMN bagi negara. Tambahan laba dari efisiensi harus memperkuat APBN melalui dividen dan PNBP,” tegas Amin.
Penerapan teknologi modern di tubuh PT INKA tidak hanya mempercepat waktu produksi, tetapi juga berhasil menurunkan beban operasional secara nyata. Berdasarkan hasil audit energi di divisi pabrikasi, konsumsi listrik tahunan yang sebelumnya mencapai 1.738.767,60 kWh berhasil ditekan melalui efisiensi motor listrik, sehingga menghasilkan penghematan energi sebesar 34.987,55 kWh per tahun. Dari langkah ini, PT INKA mencatat estimasi penghematan biaya listrik hingga Rp 28 juta per tahun.
Selain itu, laporan keuangan PT INKA juga memperlihatkan adanya penurunan beban operasional sekitar 19 persen, yang menunjukkan keberhasilan implementasi sistem robotik dan otomatisasi di berbagai lini produksi. Walaupun data detail seluruh komponen operasional belum sepenuhnya dipublikasikan, angka ini cukup menggambarkan capaian efisiensi yang signifikan.
Amin menambahkan, langkah efisiensi yang dilakukan PT INKA dapat memperkuat posisi keuangan perusahaan tanpa bergantung pada penyertaan modal negara (PMN), serta mendukung kemandirian fiskal melalui peningkatan kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara.
Transformasi teknologi yang dilakukan PT INKA menjadi momentum penting untuk memperkuat daya saing industri perkeretaapian nasional. Dengan pembangunan fasilitas baru dan revitalisasi bengkel di Banyuwangi, perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas produksi dari 1 unit menjadi hingga 4 unit kereta per hari.
Digitalisasi manufaktur, penggunaan teknologi robotik, serta penerapan sistem pemeliharaan preventif menjadikan proses produksi lebih efisien dan berkualitas tinggi. Selain mempercepat pengiriman produk ke pelanggan, strategi ini juga meningkatkan reliabilitas dan daya saing INKA di pasar global.
Langkah-langkah modernisasi tersebut memperkuat komitmen PT INKA untuk menjadi produsen sarana perkeretaapian unggul di Asia Tenggara, sekaligus berperan aktif dalam memperkuat stabilitas fiskal nasional melalui kontribusi BUMN yang semakin besar.