Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Fikri Faqih Minta BRIN Gaet Inovator Lokal dan Internasional untuk Kemandirian Riset Bangsa

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (12/09) – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Abdul Fikri Faqih meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memaksimalkan kolaborasi dengan inovator lokal dan lembaga riset internasional.

Pria yang akrab disapa Fikri ini menyoroti urgensi BRIN untuk menjadi wadah bagi talenta-talenta riset di Tanah Air.

Dia mencontohkan seorang penemu asal Jawa Tengah yang berhasil memperoleh paten dari United States Patent and Trademark Office (USPTO), bahkan disebut-sebut mengungguli karya lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

“Saya sudah pernah pamer di Jawa Tengah. Itu ada inventor yang punya paten di luar, US PTO. Bahkan, mengalahkan lulusan MIT, padahal di sini cuma lulusan SMK,” kata Fikri, Jumat (12/9/2025) di Jakarta.

*Peran Riset dalam Mengatasi Bencana Lingkungan*

Dalam sesi RDP dengan BRIN beberapa waktu lalu, legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari daerah pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah ini juga menyampaikan kekhawatirannya tentang bencana lingkungan yang terus berulang, khususnya tanah longsor di Wonosobo, Jawa Tengah, yang disebabkan oleh pertanian monokultur.

Atas persoalan itu, pria peraih gelar doktor ilmu lingkungan Universitas Diponegoro (UNDIP) ini mengusulkan agar BRIN berkolaborasi dengan lembaga riset global seperti Wageningen University & Research (WUR) dari Belanda.

Menurut Fikri, kolaborasi ini diharapkan dapat membawa terobosan teknologi pertanian yang adaptif, seperti metode menanam kentang di udara yang telah dikembangkan WUR.

“Apa tidak mungkin kerja sama BRIN dengan WUR, sehingga problema longsor tidak akan terus-menerus begitu sampai sekarang. Sudah berapa desa yang sudah langganan seperti itu, dan bahkan timbul korban jiwa,” ujarnya prihatin.

Fikri juga menyinggung kegagalan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepara.

Meskipun teknologi nuklir dikenal ramah lingkungan, proyek tersebut terhambat oleh penolakan yang dimotori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang disinyalir berafiliasi dengan pihak asing.

Oleh sebab itu, ia menekankan agar perencanaan program strategis BRIN harus lebih matang. “Menurut saya, BRIN juga harus merencanakan dengan baik supaya ini bisa realistis,” tutup Fikri.