Jakarta (12/09) — Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS Ateng Sutisna memberikan perhatian serius terhadap insiden longsoran lumpur basah yang terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Peristiwa yang terjadi pada Senin malam itu menyebabkan tujuh karyawan sempat terjebak di dalam terowongan, meskipun akhirnya berhasil dievakuasi tanpa korban jiwa.
“Dalam keselamatan kerja, perusahaan tambang tidak boleh abai. Setiap aktivitas pertambangan memiliki risiko tinggi, sehingga standar operasional yang ketat harus ditegakkan tanpa kompromi. Keselamatan pekerja adalah prioritas utama,” tegas Ateng.
Menurutnya, insiden ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan keamanan di tambang bawah tanah Freeport, mengingat lokasi tersebut memiliki kompleksitas dan tingkat risiko yang tinggi.
“Perusahaan harus memastikan bahwa setiap aspek keselamatan, mulai dari struktur terowongan, sistem deteksi dini, hingga prosedur evakuasi darurat, berjalan optimal,” ujarnya.
Ia meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkuat fungsi pengawasan dan inspeksi tambang. Adanya fungsi tersebut tidak boleh hanya bersifat administratif, tetapi harus mampu menilai secara langsung kondisi lapangan serta kepatuhan perusahaan terhadap standar keselamatan.
“fungsi ini harus benar-benar bekerja profesional, bukan sekadar formalitas. Investigasi menyeluruh perlu dilakukan, dan hasilnya harus diumumkan secara transparan kepada publik agar masyarakat mengetahui sejauh mana tanggung jawab perusahaan dalam menjamin keselamatan pekerjanya,” sambungnya.
Ateng menegaskan bahwa DPR RI akan terus mengawal isu keselamatan tambang ini karena menyangkut nyawa pekerja yang berkontribusi langsung bagi perekonomian nasional.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak lengah dalam memastikan bahwa perusahaan tambang menjalankan tanggung jawab sosial dan keselamatan kerja sesuai dengan regulasi yang berlaku.