Jakarta (21/08) — Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS, Ateng Sutisna, mengapresiasi penanaman 26.000 bibit mangrove di pesisir Pantura Subang yang dipimpin Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Diaz Hendropriyono.
Kegiatan yang digelar akhir Juli 2025 ini melibatkan pemerintah, relawan, dan masyarakat lokal sebagai bagian dari peringatan Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2025 yang melibatkan peran serta pemerintah, relawan, serta masyarakat lokal.
Penanaman dilakukan pada akhir Juli 2025 di wilayah pesisir Pantura Subang sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem pesisir. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah pusat dan/atau daerah serta partisipasi komunitas lokal dan relawan.
Menurut Ateng, ribuan penanaman bibit mangrove ini merupakan simbol kuatnya komitmen negara dalam menjaga lingkungan pesisir dari ancaman abrasi dan sampah plastik.
“Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Ini adalah ekologis sekaligus tameng alami bagi pesisir. Upaya penanaman ini perlu kita apresiasi, namun jangan berhenti pada seremoni saja. Perawatan jangka panjang dan keterlibatan masyarakat lokal adalah kunci utama pelestarian,” ujar Ateng Sutisna.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat—dalam menjaga dan memelihara kawasan mangrove. Selain itu, Ateng mendorong agar program edukasi dan pemberdayaan ekonomi berbasis mangrove sejenis sehingga masyarakat merasa memiliki dan turut menjaga kelestariannya.
“Kunci keberhasilan pelestarian mangrove ada pada kesinambungan: edukasi yang tepat, perawatan yang rutin, serta pelibatan masyarakat aktif sekitar. Jangan biarkan mangrove hanya jadi proyek tanam, tapi tidak dirawat setelahnya. Pemerintah harus hadir memastikan ekosistem ini benar-benar hidup dan bermanfaat,” tegasnya.
Ateng menegaskan, pihaknya akan terus mengawal program-program pelestarian lingkungan yang berdampak langsung pada keberlangsungan hidup masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa peringatan Hari Mangrove Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan seruan untuk aksi nyata menghadapi ancaman krisis lingkungan yang semakin nyata.