Jakarta (20/08) — Jurnalis senior Andi Makmur Makka menekankan pentingnya memahami konteks historis dan kekuatan retorika Bung Karno dalam pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan. Hal itu ia sampaikan dalam pemaparan materinya pada acara Grand Launching Lomba Baca Teks Proklamasi ala Bung Karno yang digelar Fraksi PKS DPR RI, Selasa (19/08).
Andi Makmur Makka menuturkan, pembacaan Proklamasi oleh Bung Karno pada 17 Agustus 1945 bukanlah sekadar pengumuman biasa, melainkan peristiwa monumental yang mengubah nasib bangsa.
“Pidato Proklamasi itu sangat sakral, bukan pidato biasa. Dengan teks yang singkat, sederhana, namun tegas, Bung Karno berhasil merubah realitas politik: dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka,” ujar Andi Makka .
Ia menambahkan, para peserta lomba harus memahami bahwa gaya pembacaan teks Proklamasi berbeda dari pidato-pidato Bung Karno lainnya. Jika sebagian besar pidato Bung Karno penuh semangat dan emosi, maka Proklamasi dibacakan dengan tenang dan berwibawa.
“Kalau lomba membaca Proklamasi dibawakan terlalu bersemangat, itu justru keliru. Bung Karno membacakannya tanpa emosi, sangat tenang, namun tetap berwibawa,” tegasnya .
Dalam pemaparannya, Andi juga mengingatkan pentingnya mempelajari retorika Bung Karno yang mampu mengguncang tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga dunia. Ia menyebut pidato-pidato bersejarah seperti Lahirnya Pancasila, Indonesia Menggugat, hingga pidato di Konferensi Asia Afrika 1955, sebagai contoh bagaimana kata-kata Bung Karno memberi arah dan inspirasi global.
Selain itu, ia mendorong agar pidato-pidato Bung Karno dapat dimanfaatkan di era digital, baik melalui digitalisasi arsip, kurikulum pendidikan, maupun pelatihan kepemimpinan.
“Pidato Bung Karno bisa menjadi sumber energi sejarah bagi generasi sekarang. Di dalamnya terkandung nilai persatuan, anti-kolonialisme, hingga kedaulatan ekonomi. Itu pelajaran yang sangat penting untuk bangsa ini,” jelasnya .
Andi Makmur Makka menutup dengan refleksi tentang kesinambungan makna Proklamasi di masa kini, termasuk relevansinya dengan strategi pembangunan nasional yang pernah ditekankan Presiden B.J. Habibie melalui penguasaan teknologi dan kemandirian industri.