Jakarta (13/08) — Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Syahrul Aidi Maazat, menegaskan bahwa rencana pemerintah menampung 2.000 warga Gaza di Pulau Galang adalah murni inisiatif kemanusiaan, bukan bentuk relokasi permanen apalagi upaya mengosongkan tanah Palestina.
“Kita melihatnya harus jeli, yang akan dilakukan oleh Indonesia itu adalah bantuan kemanusiaan bagi warga yang perlu pengobatan. Kondisi di Gaza sangat memprihatinkan, banyak warga yang terluka dan minim fasilitas kesehatan. Kita menolak adanya relokasi warga Gaza dari tanah mereka karena itu bertentangan dengan aturan internasional” ujar Syahrul dalam Program Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV, Selasa (13/8).
Menurutnya, penempatan sementara warga Gaza di Pulau Galang bertujuan memberikan perawatan medis yang tidak bisa mereka dapatkan di wilayah konflik. Syahrul menekankan bahwa sikap Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak segala upaya yang sejalan dengan kepentingan Israel.
“Itu sama saja meloloskan apa yang menjadi keinginan Israel. Apa yang menjadi inisiatif Bapak Presiden itu tidak lain adalah tindakan kemanusiaan bagi warga Gaza yang terluka dan butuh pengobatan,” tegasnya.
Syahrul juga menyoroti pentingnya langkah jangka panjang untuk menghentikan penderitaan warga Gaza, yaitu dengan mencabut blokade yang diberlakukan Israel.
“Yang paling krusial adalah blokadenya dicabut. Kalau ini tidak dihentikan, sama saja kita memperbaiki hilirnya tapi hulunya dibiarkan. Hulunya ini harus diselesaikan,” ujarnya.
Menanggapi isu yang mengaitkan rencana ini dengan dugaan adanya insentif dari pihak asing, Syahrul membantah keras.
“Setiap kebijakan pasti ada dugaan-dugaan, cuma pembuktiannya tidak ada. Sekali lagi, ini adalah tindakan kemanusiaan, bukan pengosongan Gaza,” tegasnya.
Syahrul menutup dengan ajakan agar Indonesia terus bersuara di forum internasional dan menggalang dukungan negara-negara lain untuk menghentikan genosida serta blokade terhadap Gaza.