Logo Fraksi PKS

Website Resmi
Fraksi Partai Keadilan Sejahtera

Fraksi PKS Kreatif, Atraktif, Substantif

Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan, HNW: Momentum Kuatkan Toleransi dan Ukhuwah

 

Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Jakarta (03/04) — Anggota DPR yang juga Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid menilai kembali terjadinya perbedaan dalam penetapan awal bulan Ramadhan 1443 Hijriyah di Indonesia, mestinya dijadikan sebagai penguat sikap beragama yang toleran dan moderat, untuk mengokohkan ukhuwah diantara Umat Islam dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Tidak malah, kata Hidayat, dijadikan sebagai ajang untuk membuat ribut atau memecah belah ummat, apalagi yang sampai bisa mengganggu khusyu’nya ibadah puasa di bulan Ramadhan.

“Setelah 2 Ramadhan Umat dibikin repot dengan covid-19, maka ketika tahun ini covid melandai, dan kebijakan dilonggarkan, mestinya penentuan awal dan akhir Ramadhan perlu disikapi dengan hal yang konstruktif, tidak menghadirkan keributan, disikapi dengan penuh kebijaksanaan, berdasarkan ilmu dan tanggung jawab keummatan, serta menjadikannya sebagai momentum menjadikan masalah khilafiyah termasuk metode penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan sebagai rahmat bagi Umat,” ungkap pria yang akrab disapa HNW.

Baca Juga : Madrasah Terus Berprestasi, HNW Minta Nomenklaturnya Masuk di RUU Sisdiknas

Karena, lanjutnya, apapun metode yang dipergunakan untuk menentukan awal Ramadhan, semua pihak memulai ibadah puasa wajib pada tanggal 1 Ramadhan 1443 H baik itu yang bertepatan dengan tanggal 2 April 2022 Masehi seperti Saudi Arabia, Mesir, Australia, AS, Muhammadiyah dan lainnya, maupun yang bertepatan dengan tanggal 3 April seperti Indonesia(MUI/NU), Malaysia, Brunei, China, Maroko dan lainnya.

“Karenanya perbedaan yang terjadi patutnya disikapi secara proporsional, dan dihormati, sebagai perwujudan toleransi beragama, moderasi, inklusifitas dan kebersamaan,” disampaikan Hidayat dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (03/04).

HNW mengingatkan Pemerintah melalui Kementerian Agama untuk kembali bisa memfasilitasi perbedaan tersebut dengan tetap mengundang seluruh pihak yang kompeten seperti Muhammadiyah dengan methode ijtihadnya dalam penentuan awal/akhir Ramadhan, untuk seperti tahun-tahun sebelumnya bisa hadir duduk bersama dalam sidang Isbat penentuan awal Ramadhan dan nanti Idul Fitri 1443 H.

“Karena memang metode ijtihad untuk menentukan awal dan akhir Ramadhan/awal Syawal juga beragam; ada ru’yah mahallii(lokal) atau ‘alamiy (global), juga ada hisab hakiki atau ‘urfi, tetapi semuanya sudah lama diterima di kalangan Sunni dan diakui berlaku di NKRI,” pungkasnya.

Maka, imbuh HNW, demi menjaga ukhuwah, toleransi, dan kebersamaan, sudah sangat sewajarnya bila pihak-pihak yang berkompeten sekalipun berbeda, tetap diundang oleh Kemenag.

“Agar seperti tahun-tahun sebelumnya, bisa hadiri sidang isbat diawal maupun akhir Ramadhan nanti. Agar kuatlah komitmen kebersamaan menyambut (tarhib) Ramadhan akan hadirkan amalan yang sesuai dengan bulan Ramadhan Karim(yang mulia dan terhormat),” sambungnya.

Baca Juga : Peringati Mosi Integral Natsir, HNW: Kembalikan Cita-Cita NKRI Sesuai Amanat Konstitusi

HNW yang merupakan Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini juga meminta masyarakat untuk tidak larut dalam mengomentari perbedaan tersebut, apalagi sampai terpancing dengan ujaran atau tindakan yang malah bisa merusak nilai ibadah puasa di bulan Ramadhan.

“Dan agar mewaspadai kalau ada pihak yang ingin memanfaatkan isu ini untuk mengadudomba diantara umat Islam akibat masalah khilafiyah seperti ini,” ujarnya.

HNW yang juga Anggota Komisi VIII DPR yang antara lain membidangi masalah Agama, mengajak masyarakat khususnya Umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan kuatkan solidaritas dan soliditas keummatan dan kebangsaan, dengan kokohkan ukhuwah, wujudkan pelayanan untuk saling membantu dengan sesama umat dan rakyat, hal yang sangat dinantikan oleh Rakyat yang lagi kesusahan akibat covid-19 maupun akibat kenaikan harga-harga sembako, BBM, pajak dan lainnya.

“Maka janganlah larut dengan perbedaan penentuan awal Ramadhan, tapi juga jangan lanjutkan pengabaian terhadap potensi besar yang dimiliki Ummat beserta momentum yang bisa hadir bersama bulan Ramadhan, juga saat nantinya memeriahkan syiar Hari Raya Idul Fitri.

Maka penting bagi Umat untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk kokohkan ukhuwah dan pemberdayaan Umat, dengan saling menghormati dan menguatkan, serta membantu sesama Umat dan Rakyat.

“Sehingga kedatangan Ramadhan maupun kepergian Ramadhan nantinya, betul-betul jadi sarana peningkatan kwalitas religiusitas dan taqwa dari Umat, hadirkan kesalihan pribadi dan sosial, sehingga kehadiran dan kepergian Ramadhan jadi berkah positif bagi Umat dan Bangsa. Marhaban ya Ramadhan,” pungkasnya.