Jakarta (17/08) — Menyambut Peringatan HUT ke-76 Republik Indonesia, Anggota DPR yang sekaligus sebagai Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, menegaskan kembali nilai historis dari jasa-jasa para ulama dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI.
“Sebagaimana bersesuaian dengan semangat Al-Qur’an yang menegaskan nilai penting sejarah bagi kemajuan peradaban, maka tidak dipungkiri bahwa slogan JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) harus dibuktikan dengan tindakan nyata, diantaranya adalah dengan merawat catatan emas sejarah para Ulama dan Umat Islam yang bersama para Pejuang dari berbagai kalangan dan latar belakang Agam atau Organisasi dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka seharusnya kita juga JAS HIJAU: Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama, Umaro dan Umat,” demikian disampaikan Hidayat dalam acara Doa Bersama untuk Keselamatan Negeri, menyongsong peringatan HUT Kemerdekaan RI yang diselenggarakan secara virtual oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jakarta Pusat (15/08/2021).
Oleh karena itu Anggota DPR RI dari Dapil DKI Jakarta II yang akrab dipanggil HNW ini mengingatkan pentingnya menempatkan secara utuh catatan historis jasa Ulama, Umaro dan Umat Islam bagi kemerdekaan Indonesia.
“Para Ulama dan Santri dari beragam latar belakang Ormas (seperti NU, Muhammadiyah, PUI, Persis, dan lain-lainnya) dan Orpol Islam (seperti Syarikat Islam, PII, Masyumi dan lain-lainnya), para Habaib seperti Habib Ali Kwitang, Habib Idrus alJufri, Habib Husain alMutahar dan para Santri, menjadi yang terdepan dalam menghadirkan dan mempertahankan kemerdekaan RI, juga para Umaro seperti Sultan Hamengkubuwono IX yang sebagaimana para raja Mataram dan Yogyakarta sebelum beliau menyandang gelar Khalifatullah yang ternyata juga secara totalitas memperjuangkan dan mempertahankan Republik Indonesia yang baru lahir, salah satunya dengan menggabungkan Kerajaan Mataram ke RI dan menyumbangkan 6 juta Gulden kepada pemerintah RI. Juga Sultan Syarif Kasim II yang menggabungkan Kesultanan Islam Siak kepada RI dan memberi hibah sebesar 13 juta Gulden, juga Sultan Syarif Hamid alQadri II di Pontianak yang gabungkan kerajaannya ke RI dan sumbangkan 300 senjata dan meriam dukung kemerdekaan RI,” ujar HNW.
Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menegaskan bahwa persatuan yang dicontohkan para Ulama, Habaib dan Umara bersama pejuang-pejuang bangsa dari beragam kalangan pada masa itu merupakan pelajaran terpenting di masa kini.
“Semua catatan sejarah emas itu membuktikan bahwa para Ulama dan Umat dengan seluruh elemennya berhasil bersatu dalam rangka memenangkan perjuangan umat bersama dengan pejuang-pejuang kebangsaan lainnya, bersamaan dengan memenangkan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karenanya pelajaran tersebut menjadi semakin relevan bagi para Ulama dan Umat pada hari ini, yaitu agar kita tidak terpecah-belah dan semakin kokoh dalam merawat kemerdekaan bangsa yang terwujud ‘Atas berkat rahmat Allah SWT’ sebagaimana termaktub dalam alinea ketiga Pembukaan UUD NRI 1945. Jika dahulu para Ulama dan Umat bersatu-padu melawan berbagai bahaya yang mengancam Republik Indonesia seperti pemberontakan komunisme, maka pada hari ini tidak kalah penting juga kita menjaga agar sejarah tersebut tidak diputarbalikkan, atau dijadikan ajang untuk mengadudomba/memecahbelah di antara Umat dan Ulama dan Habaib. Dan adu domba antara mereka (Umat Islam) dengan Negara maupun TNI/Polri. Insya Allah sampai saat ini seluruh elemen Umat dan para Ulama dan Habaib bersatu-padu menentangnya, dan semoga segala upaya-upaya distortif yang mengancam bangsa ini, dan memecahbelah atau mengadudomba ini bisa gagal dengan waspadanya Umat/Ulama dan Habaib dan bersatunya mereka untuk menjaga dan merawat kemerdekaan Indonesia,” tegas HNW.
Selain itu, HNW juga menyampaikan pentingnya persatuan dalam merawat kemerdekaan Republik Indonesia, terutama dengan cara melawan segala bentuk penjajahan.
“Kemerdekaan yang mahal harganya ini, penting untuk kita rawat dengan cara bersatu-padu melawan segala bentuk penjajahan gaya baru, baik penjajahan sosial-budaya dengan serangan dekadensi moral melalui berbagai media, penjajahan ekonomi dalam bentuk jeratan utang, penjajahan dalam bentuk pandemi Covid-19, termasuk juga penjajahan ideologi Komunisme yang berusaha dinormalisasi oleh sebagian kalangan. Tentunya kita juga berkewajiban melawan penjajahan Israel terhadap Palestina, karena Palestina ialah negara sahabat yang sedari awal telah diperjuangkan hak-haknya oleh Presiden Sukarno. Dengan kita bersatu-padu dan melawan segala bentuk ancaman penjajahan, itu merupakan cara kita merawat dan mensyukuri kemerdekaan yang merupakan anugerah tak ternilai dari Allah SWT,” tutup HNW.